Belajar Berdemokrasi


Menyandang status sebagai mahasisiwa tentu merupakan bukan sebuah kebetulan. Status orang terpelajar/intelek, yang memiliki pola pikir progresif dan tidak hanya peka terhadap hal-hal yang besar  namun  peduli jyga  terhadap  hal yang sangat kecil.

Gaung mahasiswa, khususnya diindonesia tentu memiliki pergerakan tersendiri dalam bingkai sejarah yang telah terukir. Tumbangnya rezim orede baru adalah bukti kongket kekuatan massif mahasiswa yang terpadu. Semenjak itu, mahasisiwa lebih memiliki branding dimata rakyat Indonesia.

Memasuki dunia reformasi sampai demokrasi  saat ini, tentu telah menjadi catatan tersendiri di  bumi pertiwi  yang telah merdeka selama 65 tahun. Namun, tidak begitu dengan prilaku seorang agen perubahan dengan dedikasi  tinggi dan berkarakter saat ini.
Tudingan bahkan cap negatif, mengenai sisi buruk mahasiswa yang selalu melakukan aksi  “nakal”-nya acapkali meludahi sejarah terdahulu mengenai citra mahasiswa yang identik sebagai “dewa penolong” bagi kaum  lemah. Itu tercermin dari demonstarsi yang dilakukan belakangan ini. Anarkis dan kriminalistis.

Menjadi sorotan publik. Pola tingkah mahasiswa yang berujung pada luapan emosi dalam menyampaikan pendapat di hadapan ruang terbuka, bahkan samapi harus merusak simbol dan inventaris Negara. Ironis memang. Energi demokrasi negeri ini telah meluap, sehingga ledakannya mempengaruhi tempramental mahasiswa yang mengatas namakan agen  perubah tersebut.

Memang bagi sebagaian mahasiswa,  terkadang pandangan yang disampaikan ke legislatif maupun eksekutif tak banyak ditanggapi secara holistik. Meskipun beragam pernyataan sikap, bahkan petisi yang dilontarkan untuk  berbenah. Namun tidak adanya feedback secara langsung, sehingga hawa “gerah” pun semakin meninggi.

Untuk itu  ada jalan pintas yang digunakan mahasiswa untuk  mencari perhatian dari pemerintah.  Mahasiswa pun mendayakan “cara lain” yang lebih sensitif, dimana bisa  memberikan getaran shockterapy bagi pemerintah. Hasilnya pun bisa kita saksikan saat ini. Aksi gila-gilaan yang dipertontonka tergolong ekstrim pun menjadi hal yang tidak tabu lagi,  sehingga para wakil rakyat di senayan bahakn pemimpin dinegeri ini pun, semakin kewalahan menyikapi ihwal tersebut.

Namun adakah cara lain, untuk mencari perhatian pemerintah tanpa harus melakukan aksi anarkis yang hanya merugikan kita semua?  Tentunya banyak jalan menuju roma. Sebagai Negara demokrasi, seharisnya mahasiswa mulai mengimplemenrasikan ilmu-ilmu yang didapat di kampus. Agar lebih bijak dalam menyampaikan pandangan tanpa harus bersikap apatis dan ricuh. Dengan  mempelajari arti demokrasi seutuhnya.

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 20/11/2010, in mahasiswa and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: