Anggaran Pendidikan dan Beasiswa Tepat Sasaran


Pendidikan adalah hal yang sangat  vital saat ini. Semua orang ingin menjadi manusia yang terdidik yang kelak nanti bisa memberikan tuntunan kehidupn yang lebih baik. Namun  sayangnya tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan, sebagaimana dalam amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dapat survive di dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Namun begitu pun sebaliknya, bangsa yang tidak cerdas akan terlantar dan hanya akan mengunggu “ajalnya” tiba.

Kegagalan pemerintah dalam membangun pendidikan adalah cerita klasik, yang telah di dengungkan berulang kali oleh mahasiswa, pendidik maupun  pengamat pendidikan. Anggaran  pendidikan yang minim dibandinggakan dengan negara lain tentunya jauh untuk melahirkan manusia terdidik seperti diiinginkan. Iihat saja Malaysia, Negara yan baru berkembang tersebut berani  mengganggarkan pendidikan mencapai 36 persen, bahkan tertinggi dibandingkan sektor lainnya.  Bagaimana dengan di Negara kita? Anggaram kecil namun acapkali digerogoti oleh oknum-oknum tertentu. Sangat miris!

Rasanya pemerintah juga tidak kekurangan akal, untuk mensiasati semuanya itu. Ya, meraka kan orang terdidik, maka dengan mudah menuyusun regulasi yang masuk akal di hadapan rakyat Indonesia. Meskipun anggaran pendidikan tergolong kecil, tentu dengan mengunggulkan program beasiswa tepat  sasaran bagi pelajar maupun mahasiswa, yang tergolong miskin/tidak mampu, maupun berprestasi. Ini tentunya menjadi hawa sejuk  dan sekaligus berita baik bagi para orang tua untuk mengatasi mahalnya pendidikan saat ini.  Mengharapkan beasiswa yang tidak seberapa, dibandingkan lonjakan biaya pendidikan yang begitu besar.

Pemangkasan Anggaran

Bagaimana kalau jumlah anggaran pendidkan  yang relative kecil kemudian  dipangkas bagi para pelajar miskin? Setidaknnya itulah yang dilakukan oleh Pemrov Bali dalam  menghanguskan anggaran beasiswa bagi siswa miskin. Untung saja mendapat kejaman keras dari DPRD Bali dan Sejumlah pengurus PGRI di Bali. Sehingga Pemrov Bali mengurungkan niatnya tersebut untuk menghanguskan beasiswa untu pelajar miskin dari rancangan RAPBD Bali 2011.

Bukan tanpa alasan Pemrov bermaksud untuk “membabat habis” anggaran tersebut. Kebijakan   tersebut diambil dikarenakan mengingat pemerintah pusat yang berencana mengucurkan anggaran untuk membangun pendidikan wajib belajar(Wajar) 12 tahun. Namun anehnya , hal tersebut hanya menjadi polemik  yang cukup berkepanjangan dalam Pemrov. Sebagai  seorang masyarakat, tentunya dengan adanya sokongan dana dari pemerintah tersebut adalah hal positif, apalagi melihat peserta didik di Bali khususnya yang tidak mengenyam pendidikan tercatat sekitar 1500, bisa terselamatkan. Sehinga dengan adanya kuncuran dana tersebut, lebih membantu pelajar  dalam melanjutkan pendidikan yang lebih baik. Bukankah seperti itu?

Mahasiswa Miskin

Selain itu, untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Pemerintah telah menentukan bantuan beasiswa bagi para calon mahasiswa  tergolong miskin. Sesuai dengan peraturan Pemerintah nomor 66 Tahun 2010  tentang pengelola dan Penyelenggaraan pendidikan,semua perguruan tinggi wajib menampung 20 persen mahasiswa miskin yang mempunyai kompetensi akademik yang memadai.

Bahkan Menteri PedidikanNasional  Prof. Muh. Nuh mengatakan bahwa kebijakan tersebut berdasarkan fakta di lapangan terkait dengan jumlah mahasiswa dari keluarga menengah bawah yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Pada 2003 jumlah mahasiswa miskin  di seluruh Indonesia hanya 0,98 persen,sedangkan 2008 sebesar 3 persen  dan 2009 meningkat menjadi 6 persen.

Selama ini yang menjadi kendala dilapangan, banyak lulusan dari SMA/SMK  yang berprestasi namun tergolong miskin, enggan untuk melanjutkan pendidikan nya ke perguruan tinggi. Di karenakan  memikirkan jumlah uang yang harus dikelurkan sangat tinggi.  Padahal, pemerintah telah menyiapkan kebijakan khusus bagi para mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya. Sekarang kembali lagi pada perguruan tinggi bersangkutan. Apakah telah melakukan sosialisasi secara maksimal, sehingga para pelajar berminat masuk ke pergurun tinggi. Ini pun menjadi permasalahan yang sangat krusial, fakta dilapangan  telah membuktikan banyak mahasiswa elite yang masih mendapatkan beasiswa, sedangkan mahasiswa yang tergolong miskin harus gigit jari menyaksikan hal tersebut, dan tidak bisa berbuat banyak. Ini pun harus ditindak lanjuti oleh pemerintah, jangan langsung memberikan kepercayaan penuh kepada perguruan tinggi. Perlu adanya pengawasa yang ketat dan kontrol maksimal.



About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 01/01/2011, in Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: