Daya Tarik “Seksi” PNS



Siapa sih di negeri ini yang tidak ingin menjadi PNS(Pegawai negeri Sipil)?

Pasti sebagian dari rakyat Indonesia ingin menyandang status tersebut bukan. Apalagi bagi masyarakat dengan jenjang pendidikan tinggi, tentu sudah menyiapkan segalanya untk menjadi seorang pegawai negeri.

Persiapan yang dilakukan mulai dari menuntut ilmu setinggi-tinginya, bahkan sampai keluar daerah, bahkan ada pula yang rela merogoh kocek harus kuliah sampai keluar  negeri. Intinya Cuma satu. Setelah selasai menuntut ilmu nanti, menginginkan  pekerjaan yang layak dan mampu menjadi jaminan di hari tua kelak.

PNS seakan menjadi lahan pekerjaan menjanjikan bagi mata pencarian masyarakat kita saat ini. Terbukti dari pendaftaran calon pegawai negeri sipil dari lulusan perguruan tinggi yang dilakukan di beberapa daerah mengalami peningkatan yang signifikan. Bukan  tanpa alasan, mengapa PNS masih menjadi “idola” di hati masyarakat kita.

Ada beberapa orang berpendapat bahwa menjadi seorang PNS adalah sebuah kebanggan, dan memiliki citra tersendiri di masyarakat. Alias eksekutif. Selain itu disisi lain PNS dianggap sebagai pekerjaan “terhormat. Dibandingkan pekerjaan lain, apalagi setelah lulus dari pergurun tinggi.

Terkadang pula, PNS menajadi barometer “kesuksesan” seseorang dalam berkarir. Entah siapa yang memulai, pernyataan tersebut. selain  ihwal diatas masih  banyak lagi menjadi daya tarik “seksi “  menjadi seorang PNS.

JIka dibandingkan dengan perusahaan swasta, jam  kerja PNS tidak begitu padat Sehingga banyak waktu, senggang yang bisa di manfaatkan untuk melakukan aktivitas lainnya. Meskipun dari segi penghasilan tidak terlalu besar, namun ada jaminan di hari tua yang menanti. Kemungkinan disitulah tepatnya  nilai plus menjadi seorang pegawai negeri.

Jalan Pintas

Animo masyarakat untuk menjadi PNS memang begitu besar. Meskipun , telah memiliki pekerjaan yang layak dan bahkan melebihi penghasilan dari seorang PNS namun tetap tergiur untuk menjadi seorang Abdi Negara tersebut.

Nyatanya  dilapangn bisa kita saksikan sendiri. Apalagi ketika musim perekrutan PNS tiba, segala jalan ditempuh termasuk “jalan pintas” sekalipun. Bahkan terhembus berita, ratusan juta lenyap,hanya untuk menduduki posisi tersebut.  diamna diaminkann oleh para calo yang menawarkan jasa,sebagai dewa penyelamat untuk membantu siapapun  yang tergiur dengan pekerjaan yang dianggap bergengsi itu.

Supa menyuap dalam  perekrutan PNS bukan hal baru lagi. Yang penting bisa jadi PNS, apapun akan dilakukan. Meskipun harus pinjam sana sini. Namun sayangnya dari pihak pemerintah selama ini, hanya menindak lanjuti dengan cara-cara “formal” untuk mengatasi calo liar yang sering memakan korban.

Bahkan permainan calo, yang menjanjikan  seseorang menjadi PNS ditengrai setting-an dari oknum tertentu yang memiliki kekuasaan dan jabatan. Sangat miris!

Inilah juga yag menjadi momok menakutkan sebagian masyarakat. Mereka yang tidak memiliki modal lebih harus bersabar, dan tentunya menggunakan cara yang sama, meskipun dalam relative waktu yang lama untuk bisa mengumpulkan uang yang cukup, dan pada akhirnya menggunakan layanan calo siap saji.

Selanjutnya bagaimana dengan para lulusan PT (perguruan tinggi) yang hanya berpatokan pada hasil tes murni?   Kemungkina hanya mengandalkan keberuntungan semata, karena saat ini PNS sangat identik dengan cara-cara licin  diatas.

Mentalitas PNS

Orientasi menjadi pegawai telah mengakar sejak zaman kolonial. Dulu, menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda adalah mimpi banyak pribumi karena posisinya dianggap tinggi dan terhormat. Status ambtenaar (pegawai) dengan seragam berbeda dari inlader, sungguh menyilaukan mata.

Banyak pribumi menjilat bahkan berkhianat demi meraih jabatan. Akibatnya, budaya korupsi dan memberi upeti berkembang. Hal ini diperparah oleh budaya feodalisme yang membuat orang hanya berorientasi pada atasan. Hasilnya adalah mental pegawai yang bekerja berdasar motivasi asal bapak senang (ABS).

Begitupun sampai saaat ini. budaya  tersebut telah berakar sampai generasi ke genarasi. Cara –cara insatan  telah menghiasi kehidupan peradaban Negara berkembang seperti Indonesia. Lebih mementingkan hasil cepat dan menjanjikan,   tanpa menjalani proses panjang yang nyelimet.

Mentalitas seperti inilah, yang hanya akan merongrong birokrasi negeri ini. Bisa kita sejenak memperhatikan orang yang telah menjadi PNS, lihat saja dikantornya apa yang mereka lakukan sebenarnya.

Kita kerap menemukan PNS yang sedang bermain game di komputer, duduk-duduk bergerombol sambil mengobrol dan merokok, membaca tabloid atau nonton televisi di siang bolong. Tidak jarang, kita juga bertemu dengan PNS yang sedang berjalan-jalan di mal saat jam kerja, atau berbelanja di pasar tradisional.

Apakah kenyamana ini yang ingin  dirasakan bagi mereka yang ingin ngotot menjadi PNS? Entahlah.

 

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 26/01/2011, in sekitar kita and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. PNS ga PNS sama aja…. yg penting klo dr ngeblog bsa ciptain rekor ya bagus kan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: