Bersikap Seperti Gandhi


Kebanyakan orang yang mengakui Mahatma Gandhi adalah salah satu tokoh terbesar sepanjang sejarah.

Bahkan , Einstein pernah memujinya,” Mungkin generasi berikutnya akan sulit percaya bahwa kalau ada orang seperti itu pernah hidup didunia ini.”  Pertanyaannya adalah, adakah ajarannya masih relevan untuk masa kini?

Sebelum ini, kita mengenal Gandhi sebagi tokoh penggerak ahimsa dan satyagraha. Kedua istilah itu kerap dibaurkan meski sebenarnya ada nuansa perbedaan. Ahimsa lebih menekankan pada perilaku untuk tak menjalankan atau menghindari tindak kekerasan, terutama terhadap mahluk hidup,. Dan, Gandhi menerapkan, khususnya dalam perjuangan politik.

Sementara satyagraha lebih menekankan pada falsafah dan praktik untuk menjalankan prinsip-prinsip untuk kebenaran. Bukan kebenaran tafsir manusia,melainkan lebih merupakan berserah terhadap kehendak-Nya. Dalam satyagraha, tujuan dan cara itu adalah satu, keduanya tak boleh berlawanan. Tujuan mulia untuk memuliakan-Nya tak boleh menghalalkan segala cara. Dan, salah stu prinsip satyagraha adalah ahimsa.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ahimsa ataupun satyagraha tidak terlampau idealistis? Sebenarnya, jika menukik keajaran Gandhi, tidaklah demikian. Dalam keadaan nyawa terancam, kita berhak melakukan pembelaan diri, termasuk dengan menggunakan kekerasan. Jika pilihannya terbatas antara kepengecutan dan kekerasan, Gandhi lebih memilih yang kedua untuk mempertahankan martabat bangsa. Namun, banyak hal tersedia sejumlah pilihan dan tidak hanya terbatas pada dua hal itu.

Alhasil, Gandhi teguh berpendirian, pantang kekerasan itu jauh lebih unggul dibandingkan dengan kekerasan.Untuk sejumlah hal pengampunan lebih kesatria daripada penghukuman, sementara kekuatan sejati lahir terutama dari kemauan keras dan bukan dari kapasitas fisik.

Jika dikaji riwayat hidupnya, sebenarnya Gandhi, pada awal mula bukan orang istimewa. Ia canggung, pemalu, dan tidak menonjol dalam pelajaran di sekolah. Sepertinya tak ada bakat khusus yang melekat pada dirinya. Mula pertama menjadi pengacara di India, ia juga tak begitu berhasil,setelah menetap di Afrika Selatan, memperjuangkan hak-hak warga India di sana.

Ia  berhasil menempa diri menjadi pribadi tangguh, sekuat granit yang berkomitmen penuh pada nilai-nilai kebenaran dan pantang kekerasan. Dengan tekun belajar, rajin introspeksi diri disertai disiplin tinggi, ia mampu mengangkat diri sebagai pemimpin bermartabat yang berusaha menyatukan pikiran dengan perbuatan.

Agaknya, Gandhi adalah manusia paradoksal. Di satu pihak ia lemah lembut secara fisikdan pantang kekerasan, tetapi di pihal lain ia pribadi pantang menyerah, berani masuk keluar penjara. Ia suka merenung,menuangkan pikirannya dalam tulisan, namun serentak dengan itu ia adalah sosok manusia yang penuh dengan tindakan tanpa banyak retorika. Ia idealis, tetapi pada saat bersamaan memperhitungkan realitas medan untuk mencapai tujuan.

Tujuh Dosa Sosial

Gandhi banyak melahirkan idiom-idiom yang membuat orang tercengang, seperti “anda mesti menjadi perubahan yang anda ingin saksikan”.Atau, “ Ukuran kebesaran suatu Negara harus didasarkan pada betapa pedulinya dia pada penduduknya paling rendah/lemah. Gandhi tak hanya banyak bicara yang bagus-bagus, tetapi berdiri digarda depan membelal kaum paria, kelompok paling rendah, untuk memperoleh status persamaan hak. Namun, ungkapannya yang paling menggigit adalah”Kekayan tanpa kerja”, Kenikmatan tanpa nurani”, “Ilmu tanpa kemanusiaan “, “Pengetahuan tanpa karakter”, “ Bisnis tanpa moralitas’, dan ibadah tanpa pengorbanan”. Ia menyebutnya sebagi tujuh dosa sosial yang mematikan.

Kalau kita melihat sekeliling,mencermati berbagai kejadian yag ditampilkan media atau menelisik ucapan atau gerak-gerik tokoh-tokoh(birokrasi, politik, bisnis, akademi) , bandingkan perilaku mereka dengan ungkapan Gandhi . Sebagian tidak sama, tetapi sebagian lagi sepertinya mempunyai kemiripan.Dunia sepertinya sudah terbelah.

Sebagian cukup besar masih mempunyai nurani, kemanusiaan, karakter, prinsip, moralitas, mau berkorban, dan berkarya. Sebagian lainnya karna berbagai factor, seperti kemudahan kesempatan, rayuan kedudukan, pengaruh uang, bujukan sekeliling, atau tuntutan dari atasan, menjadi bergeser posisinya.Mula-mula bergerak ke wilayah abu-abu untuk kemudian beringsut mendekati zona bebas nilai. Yang penting adalah menjadi pemenang, satu-satuya parameter yang di kedepankan untuk menentramkan hati.

Gandhi sendiri seperti yang ditulis Richard Granier, Commemtary 1983, bukanlah orang suci, sempurna, tanpa punya kelemahan pribadi. Ia misalnya mempunyai hubungan kurang harmonis dengan istri dan anak-anaknya. Gandhi juga lebih sering dan lebih banyak disekelilingi sejumlah besar pengikut dan kurang mempunyai  rekan sederajat.

Namun, terlepas dari berbagai kekurangan, ia orang yang terus berusaha, dan ini yang membuat kita kagum kepadanya.agaknya pada zaman kelabu ini, relevansi ajaran Gandhi menjadi bertambah kuat. Di tengah kebimbangan dan keraguan kehidupan masyarakat yang tercelup dalam nuansa posmo dan ajarannya dapat dijadikan   penyejuk hati dalam hidup ini.

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 12/02/2011, in Hinduism and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. salam kenal dari dalang Barito Timur, Kalteng masssssss
    bila diaplikasikan dalam pemerintahan indonesia apakah bisa berjalan ya mas?
    karena politik indonesia ini sudah bobrok karena hati dari yang berpolitik sendiri sudah di kendalikan oleh nafsu.
    salam rahayu…………

  2. pasti bisa, tidak ada yang tidak bisa,,,tinggal pemerintah dan jajarannyalah yang harus berbenah secepat mungkin.
    itu menjadi cerminan dari sikap Gandi…
    kembali lagi kepada pemimpin, kita sebagai masyarakat juga telah bisa menilai negara saat ini. cercaan dan hinaan telah melekant pada wakil rakyat kita. semoga secepatnya berbenah…astungkara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: