Haruskan Bersekolah di “Kandang Ayam”?


Lantai beralas tanah yang becek, bangku dan meja harus ditopang dengan tiang bambu, serta atap rumbia yang bocor, apalagi  kerap memaksa para guru mengungsikan siswa-sisiwi  ke rumah penduduk jika hujan deras.

Setidaknya itu yang tercermin  dari bangunan SDN 50 Benteng Palioi, Bullukumba, Sulawesi Selatan. Menjadi keprihatinan tersendiri, ketika menyaksikan pemberitaan melalui media elektronik mengenai potret pendidikan Indonesia saat ini

Parahnya lagi, sekolah SD tersebut merupakan bekas dari kandang  ayam yang dipergunakan sebgai tempat peserta didik untuk menimba ilmu, dikerenakan  akses sekolah di pedesaan tersebut sangat jauh dari seolah yang dikatakan layak.

Itu hanya satu dari banyaknya bangunan sekolah yang tersebar di Nusantara, yang tersorot media. Apalagi melihat keadaanya yang amat sangat memperihatinkan.

Bagaimana anak negeri mau bisa bersaing, setidaknya sejajar dengan sekolah-sekolah yang lebih layak dengan sekolah lainnya diindonesia. Apalagi  ingin berkompetisi dengan pelajar luar negeri. Hendaknya pemerintahnya jangan hanya terfokus pada isu-isu kekinian saja, yang hanya menguras energi masyarakat sebagai penonton manis.

Rakyat menunggu aksi nyata pemerintah dalam menjamin bangsa ini untuk mengenyam pendidikan yang layak. Dan tak seharusnya pula, generasi bangsa  ini bersekolah di kandang ayam.

Menjadi  pelajaran berharga bagi pemerintah, karena masa depan bangsa ini ada pada peserta didik yang saat ini duduk dibangku-bangku sekolah. Bahkan mereka yang duduk di sekolah dengan fasilitas seperti  diatas.

Tak seharusnya anak bangsa ini, menjadi “pengemis” terus oleh sistem yang dibuat oleh pemerintah sendiri. Sistem yang hanya mengekang, warga Negara untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak bukan sebaliknya.

Namun, sayangnya bisa kita saksikan sendiri saat ini. Wajib belajar yang diterapkan oleh pemerintah, hanya sebatas jalan untuk mensiasati  kebobrokan sistem pendidikan ala Indonesia yang semakin Kapitalis.

Sekolah sama dengan uang yang banyak. “Bagi mereka masyarakat yang tidak memiliki uang banyak, tak usahlah bersekolah”. Kasarnya mungkin seperti itu.

Padahal dalam UU, sudah dinyatakan dengan tegas bahwa warga Negara di jamin untuk memperoleh pendidikan yang layak dan dijamin oleh pemerintah. Namun nyata apa?

UU sekiranya hanya menjadi tameng pemerintah untuk bersembunyi , dari cara-cara licik mereka demi mensiasati keadaan realitas  bangsa ini yang penuh dengan budaya korup yang semakin kuat dan berarkar.

Pendidikan Mahal

Pendidikan merupakan hak dasar yang harus dapat dinikmati oleh masyarakat. Bukan  saja sebagai investasi jangka panjang, pendidikan merupakan pertaruhan jati diri dan kelangsungan hidup bangsa dan negara ini. Seolah sebuah simalakama. Antara  pendidikan murah atau pendidikan berkualitas.

Disadari bersama, bahwa pendidikan yang berkualitas memerlukan biaya yang besar.Pemerintah telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun. Artinya seluruh warga negara wajib bersekolah minimal 9 tahun (sampai setingkat SMP), dan konsekwensi dari “mewajibkan” adalah pembiayaan.

Sebuah angin surga, karena pemerintah selalu menggemborkan tentang pendidikan dasar geratis. Namun menjadi mengherankan apabila pemerintah sendiri masih menyelenggarakan pendidikan dasar “khusus” yang harus mahal.

Rendahnya anggaran pendidikan dari negara berujung pada mahalnya biaya pendidikan atau berbanding lurus dengan rendahnya akses rakyat untuk menikmati pendidikan. Booming pembangunan infrastruktur pendidikan hanya untuk menjaring peserta didik sebanyak-banyaknya dan tidak menjamin peningkatan kualitas pendidikan.

Mahalnya pendidikan, tanpa diimbangi dengan tingkat pendapatan dan peran serta negara, menjadi sebab rendahnya akses rakyat untuk dapat menikmati pendidikan, terutama sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Pe-menuhan akses pendidikan dasar saja, Indonesia mengalami masalah.

Ada sekitar 2,2 juta anak usia SD yang tidak dapat mengenyam pendidikan dasar. Dana bantuan operasional seko-lah di SD-SMP jauh dari ideal dan hanya terserap untuk gaji guru dan tenaga sekolah honorer bahkan men-jadi hujatan dari orang tua murid seba-gai kampanye bohong sekolah gratis SBY.

Ya, itulah realitas saat ini. Yel-yel dari beragam elemen, khususnya mahasiswa terus menggumankan pendidikan Indonesia yang masih jauh dari harapan. Karena,pendidikan adalah vitalnya perkembangan bangsa yang adi luhung. Agar, peserta didik tidak lagi bersekolah “dikandang ayam”, seperti kenyataan diatas!

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 28/02/2011, in Pendidikan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: