Profesi Petani Tak “Berwibawa” Lagi


Siapa yang tidak membutuhkan sandang ,pangan dan papan saat ini? Semua berlomba-lomba mencari kebutuhan tersebut. Sarapan di pagi hari dengan tersedianya beragam hidangan, pakaian yang dikenakan untuk melakukan beraktivitas serta tempat tinggal yang bukan hanya sekadar untuk “tempat tidur”,namun lebih dari itu.

Namun pernahkan semua sejenak berfikir, siapa yang paling sangat berperan penting sehingg bisa menikmati kebutuhan hidup senyaman itu? Kemungkinan ada sedikit yang memikirkannya. Namun  parahnya, jika seseorang  yang tak mau menau  mengenai hal tersebut. Yang  terpenting ia bekerja, bisa mencukupi kebutuhan. Titik. Tak lebih dari itu lagi. Padahal dibalik semua itu, Petani-lah yang harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan para anggota masyarakat lainnya, yang berprofesi di bidang  pemerintahan, industri, pengajar,wirausaha, pariwisata dan pengusaha.

Dalam satu kalimat sederhana, dunia global telah memandang bahwa pertanian saat ini dan masa mendatang merupakan bidang terpenting dalam menyelesaikan permasalahan umat manusia. Termasuk kebutuhan yang semakin membludak. Akankah agenda pertanian itu dapat terwujud? Bagaimana peluang pertanian di Indonesia menghadapi tuntutan global itu?

Ironis. Jumlah manusia yang terus menerus bertambah, ternyata justru diikuti dengan makin menyempitnya lahan pertanian dan menurunnya jumlah orang yang berminat terjun menjadi petani. Kita paham, milyaran manusia di planet ini memerlukan makan sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Makanan sendiri merupakan hasil dari kegiatan pertanian dalam arti luas.Menurut data BPS, jumlah petani mencapai 44 persen dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 46,7 juta jiwa. Lebih dari separuhnya merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 hektar atau mencapai 38 juta keluarga tani.

Profesi Petani

Menjadi seorang petani apalagi bisa menekuninya sebagai profesi di era saat ini, tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi  masyarakat yang cenderung hidup pragmatis dan hedonis.  Tentu piki-pikir dulu, untuk menjadi seorang petani. Meskipun saat ini, kemungkinan  ada yang memiliki lahan  cukup luas untuk berkebun, di pastikan lahan tersebut, kalau bukan dijual atau di sewakan kepada pihak lain. Tentunya ke-engganan untuk menekuni sebagai seorang petani. Meskipun  ada yang menggarapnya, itupun bisa dihitung jari. Kemungkinan karena terpaksa ataukan sebuah pilihan hidupnya.

Sejarah petani di Indonesia begitu panjang perjalannya.   Sebagai seorang yang dianggap perkumpulan yang telah lebih dari tiga abad sejak kolonialisme menjadi warga kelas bawah. Menjadi budak dan buruh di tanah sendiri. Mungkin itulah yang menjadi cerminan, mengapa porsi tawar profesi petani kurang menggiurkan. Belum lagi ambisi masyarakat kita yang semakin praktis. Sedikit kerja, namun menanti hasil yang banyak.  Faktor  gengsi pun, sebagai pemicu untuk tidak  menekuni profesi petani sebagai warisan ulung di negeri agrasis.

Itu terbukti dari  bukan hanya  masyarakat kota, desa pun tak ketinggalan dengan hal tersebut diatas. Para orang tua sibuk banting tulang, sebagai petani. Meyekolahkan anak mereka setinggingi-tingginya , dengan harapan kelak nantinya bisa hidup layak,dan secara tidak langsung menginginkan anaknya sukses dengan menekuni pekerjaan selain menjadi petanai.

Menghormati Karya Petani

kita saksikan saat ini, petani seakan menjadi garis pembatas dengan Si kaya dan Si miskin. Profesi petani seakan tak terjamah sampai ke kota, yang hidup dengan gaya modernisasi. Namun, tak terpisahkan dari kebutahnnya yan berasal dari petani. Pendidikan yang digeluti pun tak mencerminkan negeri ini yang terkenal dengan masyarakatnya yang agraris. Pendidikan yang berbasis dan lebih menjurus pada teknologi dan  menjanjikan. Meskipun  ada yang menjurus ke pertanian, itu pun langka peminat.

Apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk menyimak hal tersebut. Apalagi mereka yang bergelut dipekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan keringat namun dengan penghasilaan berkali lipat dibandingkan petani yang  harus mengeluarkan energi ekstra. Harusklan kita juga menjadi petani tulen untuk menyikapi ini semua?

Pernahakan  kita semua menghabiskan  nasi tanpa menyisakan sebutir pun diatas piring, pernahkan kita berusaha mengkonsumsi  buah-buahan lokal ditengah gempuran buah impor yang harganya bersaing dengan buah local. Pernahkan  ibu rumah tangga  belanja di pasar tradisional, yang merupakan pasar petani disamping menjamaurnya swalayan yang menjajankan kebutuhan pokok dengan beragam fasilitas.  Itulah yang bisa kita usahakan, ditengah tak berwibayanga frofesi petani saat ini. Meskipun kita tidak harus turun menjadi petani, setidaknya mendukung dan memberikan sumbangsih kepada petani-petani dinegeri ini. Dengan menghargai kurasan keringat mereka. Hidup petani Indonesia!

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 03/03/2011, in Ekomania and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Profesi Petani bisa dikatakan sudah sangat sangat jarang ada di Kota. Denpasar misalnya… Bisa jadi lantaran harga lahan yang sudah sedemikian mahalnya bila ‘hanya’ digunakan untuk bertani. Tapi di Desa Canggu, pinggiran kota, profesi Petani masih tetap ada dan eksis loh…

  2. ia sih bli, tapi bisa di hitung jari jumlahnya saat ini berap, inikan dampak dari pariwisata yang keterlaluan….

  3. Semua itu tergantung diri kita,sukses atau tidaknya petani kita tergantung sistem dan caranya bertani,petani negara laen aja bisa exspor ke negara kita dengan harga murah,kenapa kita tidak ??? ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: