Catatan Suram di “Gumi Serombotan”


Keberhasilan Pemimpin tercermin  dari kebijakan apa yang telah diterapkan, sehingga mendapat sambutan hangat oleh seluruh elemen masyarakat. Namun terkadang,  pemimpin seakan menerapkan kebijakan yang tidak mampu menyesuaikan dengan keadaan geografis maupun SDM warganya.  Parahnya  lagi jika kepercayaan yang diberikan untuk memimpin yang kedua kalinya, gagal tanpa adanya perbaikan apapun.

Setidaknya itu yang menjadi sorotan masyarakat dan media belakangan ini dalam menggubris keberadaan “Gumi Serombotan” . Ya  siapa lagi kalau bukan Kabupaten Klungkung dengan kepemimpinan Wayan Candra.  Acapkali  menjadi bahan “diskusi” masyarakat , baik dari segi kebijakan yang diterapkan  hingga masuk ke ranah politik. Bukan tanpa alasan real, ini menjadi lontaran masyarakat. Selama memimpin kedua kalinya. Beragam penialain plusminus yang telah diberikan masyarakat . Toh, itu pun  belum cukup menyadarkan pemerintah, bahwa rakyat membutuhkan restorasi dari kepemimpinan yang pertama , namun nyatanya jauh dari harapan.

Dalam program kampanye yang digemborkan oleh Bupati Klungkung  tersebut,  salah satunya yaitu peningkatan infrasturuktur seperti jalan,air bersih listrik, terutama di daerah kawasan Nusa Penida . namun   sampai sekarang pun, itu hanya lah sebuah “mimpi basah” bagi masyarakat Nusa penida sendiri. Yang sangat memprihatinkan adalah akses jalan, yang merupakan moda tranportasi yang sering di eluh-eluhkan. Mengingat Nusa Penida dengan tekstur wilayah perbukitan, maka begitu banyaknya jaln-jalan rusak , bahkan sempat memakan korban jiwa, juga  belum ada tanda-tanda perbaikan pemerintah  untuk berbuat banyak.

Bukan sampai disana saja, wilayah gersang yang dimiliki Pulau tersebut, merupakan tantangan tersendiri bagi masyarakat untuk tetap bertahan, ditengah kebutuhan hidup dan biaya sekolah yang ditanggung  untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Belum lagi  air,yang merupakan dambaan warga Nusa penida.

Bantuan tangan  pemerintah yang dinanti ternyata tak kunjung datang. Untuk mensiasati hal tersebut pun, warga Nusa Penida harus mencari alternative lain yang sekiranya bisa dimanfaatkan.  Misalnya saja pembuatan cubang, sebagai penampung air hujan, yang akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Terus yang menjadi pertanyaan adalah, dimanakah visi misi pemerintah dulu yang diobral, untuk merangkul suara rakyat agar bisa keluar dari Zona penderitaan ? dikemanakan beragam sumber pajak yang dipungut oleh pemerintah? Itu diluar nalar pemikiran masyarakat saat ini, yang penting bisa mencukupi kebutuhan, sudah lebih dari  kata cukup.

Surat Untuk Bupati

Permasalahan lain pun mneghantui Gumi serombotan saat ini. Dari penataan kota hingga lingkungan yang menjadi sorotan warga. Tak ada bedanya, Kabupaten Klungkung sama dengan kabupaten lain dan Kota Denpasar gencar mempromosikan objek pariwisata. Di balik promosi itu, sampah ternyata tidak dikelola dengan baik. Masyarakat menilai Pemkab Klungkung tidak maksimal dalam menangani sampah. Sampah berserakan. Bak-bak penampungan sementara juga ditempatkan sembarangan seperti di trotoar.

Tak pelak, hal itu mengundang keluhan warga. Belum lagi meningkatnya aktivitas masyarakat, tidak hanya berdampak positif bagi pembangunan dan kemakmuran rakyat. Sayangnya dampak positif ini tidak diikuti dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan dari luberan sampah yang dihasilkan masyarakat. Sehingga menjadi sorotan salah satu warga untuk menyurati bupati, demi menindaklanjuti hal tersebut. disini  terasa sangat ganjil,ketika masyarakat lebih peka di bandingkan pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Ini mencerminkan, rakyat lebih pintar di bandingkan pemerintahnya sendiri bukan!

Tinggal Janji

Janji hanya lah tinggal janji. Pengakuan sebelum naik tahta menjadi bupati untuk mengedepankan kepentingan rakyat, menjalankan amanah tanpa korupsi, menyelesaikan pembnagunan dermaga eks galian C  sebagai sandingan dermaga Nusa Penida, renopasi pasar tradisonal, hanyalah catatan-catatan kecil yang tak tersentuh,dimana seakan   menjadi tuntutan raykat dikemudian hari.

Harapan hanya tinggal sebuah harapan,yang  hampa dan kosong. Dari  tangan rakyat untuk menadah kebijakangan yang acapkali omong kosong belaka. Iming-iming kesejahteraan rakyat, ibartkan angin lalu yang berhembus kencang tanpa menyisakan apapun. Semua gersang dan layu.   Dan pada akhirnya akan menjadi catatan buram  Si Pemimpin untuk diwariskan, pada kepemimpinan berikutnya.

Pelajaran berharga untuk dipetik dari sebuah kepemimpinan yang mengatasnamakan rakyat. Namun  berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan rakyat saat ini. Bagi siapapun yang duduk pada posisi pemimpin, hendaknya mengamalkan ajaran Astha Brata yang dimilki dalam konsep Hindu. Saya rasa Bupati mengetahui hal tersebut, hanya saja belum bisa mempraktekkannya !*

 

*tulisan ini pernah di muat di Koran lokan : bali express

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 27/03/2011, in Tulisan di Media and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: