Permainan Semu di Balik Teror Bom


Menjadi perhatian mengejutkan  masyarakat di negeri ini, mengenai paket bom yang belakangan menjadi teror menakutkan di tengah aktivitas masyarakat . Khususnya  di kota-kota besar. 

Paket terselubung dengan media yang sangat dekat digunakan oleh warga sendiri, dikemas dengan begitu apiknya  ternyata, membawa musibah dan teror yang menghantui pikiran kemanapun melangkah. Serangkaian ledakan bom yang diawali di Utan Kayu dan kemudian merambat ke daerah lain, meskipun berdaya letus rendah, mempunyai efek sosial yang sangat merusak. Bom-bom tersebut yang  semakin menggerus modal sosial bangsa karena beberapa tahun terakhir terjadi serangkaian kekerasan yang memberikan kesan negara tidak menindak dengan tegas.

Dilema besar pula , untuk mengguncang keamaan Negara ini. Ketakutan seakan mulai di desain oleh aktor di belakang layar, untuk menggambarkan suasana keruh.  Keadaan lingkungan yang tidak stabil  dengan gejala yang tak pasti seakan menjadi target sang teroris yang bermain.

Perasaan  was-was  pun muncul menghiasi masyarakat yang begitu dalam dan menakutkan. Semua orang terguncang dan sangat tercekam karena memang tujuan serangan teror adalah awalnya menciptakan ketakutan yang amat mendalam. Kaum teroris mengekploitasi rasa takut sampai pada tingkat optimal.

Rasa takut yang yang begitu mendalam seakan telah membawa siapaun kedalam kengerian maut. Sering disinggung , kiprah teroris ibaratkan pepatah China,” Bunuhlah seekor ayam untuk menakut-nakuti seribu ekor kera.” Bukan hanya ribuan, bahkan juataan hingga milyaran orang ketakutan oleh serangan kaum teroris yang semakin menggila.

Keganasan teroris memang meningkat seiring waktu dan perkembangan teknologi saat ini. Ledakan  bom yang dikemas dalam sebuah buku yang dilakukan secara beruntut, belakangan ini  telah mengakibatkan efek teromatis pada masyarakat sekitar untuk lebih jeli dan wasapada. Teror seakan menjadi mimpi buruk yang menakutkan bagi siapapun.

Gugur Satu Tumbuh Seribu

Perlahan namun pasti. Semua  orang menjadi ketakutan dibuat oleh sang teroris. Suasana keamanan seakan menjadi ciptaan para sang teroris. Meskipun satu-persatu aktor terdahulu telah di ditangkap, di tembak mati hingga saat ini masih pula di adili, namun nampaknya pengikut gerakan yang seakan anti pemerintahan tersebut, telah membuat sebuah koloni-koloni kecil yang tersebar di nusantara. Gerakan bawah tanah mungkin saja telah dirancang, dengan beragam cara sesuai dengan konteks saat ini(pengemasannya).

Hebatnya lagi, meskipun “kakak Kelas” sang teroris   kelas wahid Noordin M Top telah tiada, namun “adik kelasnya” pun dengan konsisnten melanjutkan tongkat estapet keterorisannya dengan car-cara semu  saat ini.  Sangat lihai dalam membalut sebuah teror bom, apalagi pemberitaan  media  belakangan ini, yang tak henti-henti mewartakan mengenai paket bom yang aneh.

Bisa kita amati pula secara seksama, dimana saat ini metode para teroris dalam melancarkan aksi tidak lagi dengan mengamalkan cara lama seperti bom bunuh diri,ataupun dengan target di tempat mewah. Namun lebih pada pendekatan untuk meresahkan kejiwaan masyarakat secara bertubi-tubi.

Bisa kita simpulkan secara garis besarnya bahwa perkembangan teroris dalam menakut-nakuti masyarakat, saat ini lebih  ditekankan  dengan  menjamah hal-hal sederhana di lingkunagn masyarakat atau aktivitas masyarakat sendiri melalui media yang sering diakses warga. Seperti buku, tas, bungkusan plastik, pas bunga, dan lain sebagainya.

Spekulsai Teror

Beragam spekulasi bermunculan, mengenai aksi teror yang mengemuka ini. Ini membuktikan bahwa tindak kejahatan teror belum usai begitu saja. Ketika opini membanjiri alasan mengapa terjadinya aksi tersebut, dikarenaan adanya perlawanan atau pertentangan mengenai keberadaan Islam oleh tokoh yang dikirimi buku selama ini.

Bahkan umunya, peristiwa tersebut dispekulasikan merupakan aksi teror yang dilancarkan pelaku untuk menimbulkan rasa takut bagi korban sasarannya. Salah satunya adalah tokoh politik  yang dikenal kerap meneriakkan paham Islam liberal disinyalir menjadi sasaran kelompok tertentu yang selama ini tak sepaham dengan pandangannya. Bahkan artis kenamaan Ahmad Dhani ditengarai dibidik ancaman bom akibat dituding menjadi kaki tangan Yahudi.

Spekulsai-demi spekulasi timbul, untukmenutupi alasan sebenarnya. Terror  yang marak terjadi di beberapa daerah, bahkan serempak. Ini menimbulkan kekhawtiran yang mendalam pula, atas pergerakan teroris yang mulai memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI.

Apapun alasannya tentunya, ini menjadi pekerjan rumah yang tidak perlu diremehkan begitu saja. Teror ini, setidaknya merupakan gambaran yang akan dibuat oleh para pelaku untuk menguji ketahan keamaan ,kalau para aparat tidak bisa menjamin keselamatan warga negaranya, maka para teroris tersebut telah berhasil memancing kekeruhan antara masyarakat dengan pemerintah. WASPADALAH!!!!!

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 02/04/2011, in sekitar kita and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Wahhhhh, emang bener ini dimanfaatin orang2 jail buat tebar sensasi. Harusnya mereka sadar diri ya gan??? gak neror2 gt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: