Suri Teladan Hindu di Tengah Pluralis


Di tengah terancamnya persatuan dan kesatuan bangsa ini dalam bingkai pluralisme, tentunya menjadi sorotan mengenai keberadaan NKRI di mata dunia. Padahal negeri ini terkenal, dengan multikulturalismenya.

Negeri ini bisa bersatu padu hingga mencapai kemerdekaan dengan hal tersebut.  Jika memaknai beragam keganjilan yang selalu menempa negeri tercinta ini, tentu menjadi perbincangan tanpa henti di berbagai kalangan masyarakat untuk sesegra mungkin mengakhirinya.

Pergolakan yang belakangan menjadi perpecahan rasa ke-bhineka-an adalah bukti, bahwa tergerusnya rasa saling toleransi. Dan parahnya selalu dipertontonkan dalam wujud kekerasan berbau SARA. Menjadi keprihatinan tersendiri, ditengah caruk maruk problematika bangsa, kini diuji dengan “serangan” dari internal bangsa sendiri.

Perbedaan seakan menjadi tembok penghalang yang menjulang tinggi. Dimana harus sesegara mungkin di generalisasikan, demi kepentingan sesaat yang dianggap benar. Toh, nyatanya  saling sulut kepentingan  seperti kepercayaan misalnya.

Dimana belakangan ini menjadi warna buruk bagi pluralis bangsa ini. Begitupun dengan pemuka agama, belum bisa sebagai garda depan dalam menyikapi masalah regiulitas setiap warga Negara, dalam memeluk agama yang diyakininya,yang  harus dijaga sesuai dengan perkembangan zaman.

Suri Teladan

Menjadi harapan besar kedepannya, dalam menyikapi beragam hal diatas yang begitu sensitif untuk dibongkar pasang dalam ranah keberagaman. Dalam serangkaian hari suci agama Hindu yang dirayakan se-nusantara yaitu peringan Nyepi tahun baru caka 1933 yang jatuh setiap setahun sekali pun, menjadi titik ukur untuk menjalin persaudaraan di negeri ini. Hal ini pun mendapatkan perhatian khusus dari kepala negara sendiri yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden dalam pertemuannya dengan tokoh agama umat hindu di Jakarta dalam  serangkaian perayaan Nyepi megharapkan begitu besar. Dimana umat Hindu harus menjadi suri teladan dalam memelihara toleransi, keharmonisan dalam kehidupan yang majemuk ini.

Kepala Negara, menilai sekarang ini selalu ada tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga bisa menimbulkan kerenggangan. Karena itu, umat Hindu lewat dharma shanti harus menyampaikan pesan-pesan yang menyegarkan untuk menjaga keharmonisan, toleransi, dan kerukunan umat beragama.

Sementara itu, Presiden Yudhoyono yang menghadiri Dharma Shanti Nasional, Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 di Kompleks Mabes TNI Cilangkap, 21 Maret 2011 beberapa hari yang lalu. Dalam Keterangan persnya,Jubir presiden menyatakan bahwa  Presiden  mendengarkan pesan-pesan keagamaan sekaligus menyampaikan arahan tentang kehidupan beragama dalam acara itu.

Bahkan  Presiden sangat memberi perhatian pada pesan-pesan keagamaan dan kebajikan yang akan memberikan ketenteraman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keharmonisan kehidupan masyarakat, dihimbau agar  harus sama-sama diperjuangkan oleh semua umat beragama. Untuk itu, para pemuka agama harus berperan dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan.

Ini pun merupakan moment penting pula, bagi masyarakat, generasi muda dan para tokoh maupun petinggi umat Hindu yang memiliki pengaruh besar dalam kancah nasioanl. Seyogyanya  memberikan  nafas baru di tengah ketumpang tindihan beragama di Indonesia.

Menjadi cerminan  dan panutan dalam menjungjung tinggi keberagaman yang ada. Ini pun  bisa   ditunjukkan dari umat Hindu yang tersebar di pelosok nusantara. Bukan  berarti mengangungkan umat Hindu yang ada diindonesia selain di Bali. Pergaulan sehari-hari umat Hindu memang tergolong bersahaja, mampu bersosialisasi ditengah keyakinan yang berbeda.

Hal  tersebut tercermin dari pola pikir umat Hindu dimana pun berada di nusantara, dapat menghargai perbedaan. Meskipun hidup berdampingan dengan umat non Hindu,mampu berbaur dengan rasa toleransi yang tinggi. Karena perbedaan selalu di pandang sebagai sebuah satu-kesatuan yang patut dijunjung tinggi bukan sebaliknya.

Disini pun ingin penulis tekankan bahwa,bukan berarti pula, meskipun umat Hindu  adalah pemeluk minoritas  di negeri ini, maka harus menghormati yang lebih mayoritas. Tentunya tidak. Namun kesadaran hidup untuk berdampingan(menyame-braya)telah tumbuh dan berkembang dari warisan leluhur dari sejak dulu yang ditanamankan, untuk menghargai segala yang ada di bumi ini , termasuk perbedaan keyakinan.

Tolak ukur dalam perayaan Nyepi dengan serangkaian acara dharma shanti semoga membawakan, kedamaian di negeri ini yang penuh dengan pergolakan dan bencana tanpa henti.Astungkara!!!!

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 04/04/2011, in Hinduism and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: