Trunyan, Wajahmu Kini


Menikmati udara segar di tengah danau dekat kuburan truyan, di kelilngi gunung nan tinggi dan hijau.

Sudah penak dengan segala aktivitas kuliah, akhirnya turun gunung juga. Reportase khusus yang diadakan  oleh Bale Bengong ternyata mujarab juga.

Inilah yang di tunggu ole para kawan-kawan yang ikut nimbrung pada acara melali bareng ajak Bale Bengong. Pesertanya beragam, dari mahasiswa sampai pengusaha on-line di Bali. Meluangkan waktu seharian   dengan wisata ala jurnalisme warga.`

Meskipun suasana pagi tidak terlalu bersahabat, namun semangat dari para kawan-kawan di bascam Bale Bengong, begitu ramai dan  ceria. Kemudian tibalah lah saatnya menuju target sasaran wisata kala itu.

Guyuran hujan masih saja menjadi hiasan perjalan kami. Sesampainya di Batur, suasana sangat berbeda. Senyum lebar di tambah lagi,ancang –ancang kamera dari rombongan untuk mengambil gambar  yang  sekadar mengabadikan panorama indah, begitu terasa.

Ini adalah pengalaman pertama kami, khususnya saya sendiri bisa berbaur dengan kawan-kawan dari beragam profesi. Tanpa  harus malu dan riskan.

Sambil menikmati perjalanan. Suasa pedesaan yang kami lewati nampak sederhana. Dan  sampailah, pada tempat yang di dambakan untuk pertama kali di kunjungi. Ya, Trunyan. Wilayah yang terletak di kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini menjanjikan suasana berbeda di bandingkan Denpasar sebagai basis pariwisata dan denyut jantung Bali.

Sebelumnya sudah banyak refrensi kami dengar dan baca mengenai Trunyan sebaga sebuah desa Bali Aga. Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu pola kebudayaan petani yang konservatif.

Melihat dari sisi wisata kami, sedikit jauh dari benak yang di bayangkan. Mobil yang dikendarai mampu berjuang sampai pada pedesaan yang terletak di bibir Danau Batur. Bisa dikatakan cukup mudah, untuk mencapai Trunyam dengan transfortasi. Dan lagi-lagi  ternyata di luar duagaan saya sendiri.

Berbeda dengan berita yang berkembang mengenai Trunyan di lapangan. Saat kami memasukinya, tidak ada yang berbeda dengan pedesaan lainnya di Bali. Kemungkinan dari segi suhu udara dan tata ruang wilayah saja yang menonjol.

 Masyarakat dengan leluasa melakukan aktivitasnya seperti bertani, berternak, berjualan bahkan mencari ikan. Tampak pula guide lokal, yang menawarkan kepada rombongan untuk menikmati wisata ke kuburan Truyan.

Ternyata keprimitipan Trunyam, sesuai dengan cerita belakangan yang di dengar tak terlihat sama sekali. Malah,nampak transportasi elite melintas yang membawa touris dari India. Ya,  Taxi.

Alam pedesaan trunyan memang masih natural, namun pola budaya tumbuh seiring  dinamika pariwisata Bali, yang  telah menyentuh desa kuno Truyan.  Memiliki pesona dengan daya dukung alam memikat.

Namun, inilah sebenarnya wajah Trunyan saat ini.

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 18/04/2011, in Jalan-Jalan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: