Tukang Sate “Jadi” Photografer


Beberapa hari yang lalu, di depan rumah kediaman saya alias rumah kosan. Suara kendaraan roda dua nampak terdengar dengan keras. Begitu pun canda tawa anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar yang sedang asyik bermain sepeda dengan sebayanya.

 Sesekali, memandang keluar pagar kos-an. Angin  selatan nampak berhembus cukup kencang. Dengan pakaian serba tipis, badan ku pun merasakan dingin yang terbilang , lumayan! Ya, wajarlah karena baru bangun tidur.

Dari kejauhan, nampak suara lantang nan lengking. Dengan rambut lumayan panjang, sambil mendorong gerobak berwarna coklat legam.

“Te……te……sate…….sate….te……,” gelegar sang penjual sate sombong yang seringkali melewati depan kosanku. Kenapa saya katakana sombong? Suaranya yang khas lantang, setidaknya mengganggu setiap dia lewat . Apalagi kalau saat saya mengerjakan tugas kuliah maupun nonton tv di sore hari. Ingin rasanya, aku pindahkan dia ke planet lain. Wah! berlebihan ya…

Dia pun tergolong penjual sate yang masih saja menggunakan cara alamai untuk memikat pembeli. Berbeda dengan penjual lainnya yang cukup modern, dalam mencari perhatian kepada konsumennya. Seperti membunyikan piring atau mangkuk  dengan di paduan  sendok makan .

Tentu suaranya pun khas.” Teng…teng…teng,,,,teng,,,,,”, itulah hasil bunyi sekiranya yang pernah saya dengar ketika penjual bakso atau yang lainnya untuk memanggil konsumennya.  Itu kan lebih nyaring bunyinya, di bandingkan suara lantang yang menggelar hampir di dengar oleh seluruh kampung.

Kembali lagi pada tukang sate. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan kosan ku.

“Satenya mas, 6000 ya, “ suara lirih dari belakangku. Ternyata anak kesayangan ibu kos. “Jangan lupa kasi lontongya mas ya,” tambahnya menegaskan.

“Yo, ……”jawab tukang sate dengan singkat.

Dia memulai memanaskan arangnya, dan menyiapkan segala bahan untuk memenuhi pesanan yang tadi. Aku meliriknya, dan sedikit tertarik  ketika melihat adonan sate Ayam  dan lontong yang di potong-potong berbentuk silender.

“Akau pesan satu mas, 5000 ribu ja,” kata ku lantang. Tak tersadar kata-kata itu terlontar layaknya seorang konsumen tetap. Tapi tak apalah, mumpung lapar juga:p. Aku pun mulai membuka ruang pembiacraan dengan  tukang sate tersebut.

Sambil sedikit basa-basi untuk mengantre pesanan. Namanya  Muhamad Ruli, ia berasal dari Madura sana. Tidak terlalu jauh bagi Orang Jawa perantauan untuk ke Bali. Kira-kira  10 jam-an dari Denpasar ke Madura.

Ia sedikit memberikan “bocoran” aktivitasnya sehari-hari. Sambil  memutar-balikkan sate di alat pemanggang yang sudah hitam legam itu. Kemudian  ia bertutur lagi tentang pengalaman hidupnya.

“Saya sudah lama menjadi tukang sate, hampir 20 tahun, “ kata pria yang pernah merantau ke Sulawesi Selatan tersebut. Kemudian saya, sedikit bertanya, kenapa ia tidak membuat warung makan atau stan khusus untuk menjual satenya agar tidak keliling setiap hari. Ternyata ia pun dari dulu berharap seperti itu.

“Pengennya gitu mas, tapi nggak bisa, ada saja pengeluaran. Apalagi harus pulang kampung kerumah mertua tiap bulannya,”katanya dengan mimik wajah yang tidak enak.

Selain itu juga, ada beberapa faktor lainnya,  kenapa ia belum bisa membuka warung atau sekadar membuat stan untuk satenya. Itu  di karenakan sewa tempat di kota Denpasar begitu mahal tiap tahunnya, jadi  harus mengambil alternatif lainnya.  Ya  seperti jualan sate  keliling dengan gerobak tuanya itu.

“Arangnya buat sendiria mas ya, “ tanyaku melanjutkan obrolan dengan Mas Ruli.

“Yo, ndak toe mas, gimana caranya buat arang saya ngekos. Bisa ke bakar kosannya jika saya buat Arang. Belum lagi asapnya yang banyak. Ya, nggak mungkin lah, saya beli ne mas,” jelasnya sambil tersenyum.

Kemudian saya pun mengabadikan momen tersebut. Saya mengambil gambar pada saat mas Ruli asyik mengolah sate, untuk di bungkus.

“Saya Foto ya mas,” kataku.

“Ya, bole-boleh,” jawabnya lepas.

“Ini hasilnya,” ku serahkan hasil jepretannya.

“ Ow..kok fotoku disini”, Mas Ruli kaget.

“Ia lah mas,  biar sekalian lengkap dengan tukang satenya,”kataku lagi. Ia tersenyum.

“Berapaan harga kamera gitu mas”, tanyanya sambil mengarah kehadapanku.

“Emang kenapa mas, mau beli?

“Ya neh, dari dulu pengen beli kamera, sapa tahu jadi photographer, kan banyak duit,” jelasnya sambil tertawa lantang.

“Beneran mas, mau beli kamera ,‘ tanyaku untuk  kedua kali meyakinkan .

“Ia lah. Nanti kalau punya uang pasti tak beli,” katanya sambil memberikan bungkusan sate pesananku.

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 30/04/2011, in Ekomania and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Hi Awitara,,aku entah iseng browsing eh kebuka blog kamu hehe…
    lam kenal ya..aku suka baca blognya..salah satunya yang tukang sate ini hehe..aku hobby buanget makan sate..aku n suami hobby photography jg kebetulan hehe..
    Aku jg waktu sma suka bincang2 sama tukang sate sambil nunggu tuh sate matang😀..
    Gimana rasa sate mas Ruli ini mas?aku hobby bgt makan sate madura.
    Pengen banget punya usaha sate madura🙂
    Aku sendiri asal Indonesia hanya tinggal di malaysia..dimana aku gak bisa makan sate madura n tersiksa bgt rasanya…

    Mungkin aja aku bisa kembangin usaha sate si Mas Ruli dan mungkin mas Ruli bisa kesampaian beli kamera hehe…kalau memang enak satenya…dan kalau memang kebetulan kamu ketemu mas Ruli lagi mungkin bisa minta nomor telp mas Ruli🙂 Terima kasih ya..aku bukan orang yg punya modal besar dan bisa buat restoran buat mas Ruli tapi mungkin aku bisa bantu sedikit2 buat kembangin usahanya..Salam, Monthi

    kali kita bisa sama2 bantu mas Ruli…untung kamu masukin di blog kamu hehe…

  2. Ok. bisa , bleh minta no hpnya Mbak??? ntk tak kasi mas rulinya

  3. Silvi Anggraini

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: