“Lintah Darat” Ala NII


Multikultur negeri ini sedang di hadang dengan berbagai permasalahan yang semakin runyam. Belum rampungnya masalah aksi teror bom saat ini, malah di perkeruh dengan  keberadaan organisasi layaknya sebuah negara lengkap dengan pejabat-pejabatnya.

Mulai  dari Presiden sampai ke tingkat Kelurahan. Ya, itulah Negara  Islam Indonesia(NII). Negara baru, yang dinilai akan lebih bermarabat di banding NKRI  sebagai sebuah Negara kafir dan penuh dosa. Benarkah?

Sebelum lebih jauh menilai NKRI sebagai Negara kafir tentu bisa kita amati seksama.Keberadaan  NII belakangan ini, dari aksi menyebarkan ajaran hingga perekrutan calon  untuk menjadi keluarga besar NII dengan menghalalkan  beragam cara demi menjaring  “warga negara” barunya.

Masyarakat pun di buat resah atas munculnya NII yang secara sistematis, menjamah keyakinan publik. Parahnya lagi, jikalau  aparat penegak hukum ragu-ragu menindak gerakan NII.

Mahasiswa di Hadapan NII

Isu gencar soal gerakan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) merambah ke dunia  kampus ternyata bukan isapan jempol belaka.  Bahkan telah memasuki kampus ternama di Indonesia. Berita hilangnya beberapa mahasiswa dari sekian perguruan tinggi belakangan ini makin menunjukkan kebenaran tentang eksistensi aktivis kelompok jaringan NII.

Mahasiswa  adalah lahan empuk para penggerak  NII untuk melebarkan sayapnya. Cuci otak yang dilakukan pun terbilang ampuh, untuk menggeroti pemikir  sang agen perubah.

Padahal pandangan masyarakat terhadap mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan hendaknya menyadarkan mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda.

Mahasiswa dituntut berperan lebih nyata dalam perubahan atau paling tidak menjadi pendukung perubahan ke arah lebih baik. Toh, kita saat ini mahasiswa telah lepas kontrol dari fungsinya sendiri, malah terbalik.

Realitas tersebut tentunya mengukuhkan kenyataan bahwa aktivitas dan jaringan NII cukup eksis di negara ini. Meskipun selama ini, keberadaan NII dipertanyakan banyak kalangan mengingat pola dan motif gerakan yang mereka usung cenderung tersembunyi dan tertutup sehingga sulit mengidentifikasi aktivitas mereka.

Ketimpangan NII

Beragam ketimpangan dan kejanggalan yang bisa ditemukan dalam ajaran NII, sesuai dengan pengakuan para mantan pengikutnya.

Misalnya menjanjikan kebutuhan hidup yang terjamin,  penghapusan dosa yang hanya cukup dilakukan dengan membayar sejumlah uang, membayar iuran  setiap bulan yang mencapai jutaan rupiah hingga mencari anggota baru layaknya Multi Lavel Marketing(MLM).

Bahkan isu yang beredar di lapangan, dalam perekrutan anggota NII tak segan-segan masuk sampai pada ranah kepribadian seseorang yaitu menjadikan pacar atau pasangan hidup(suami-istri) sehingga mudah dalam meggembangkan jaringan NII.

Bahkan dari beberapa korban yang telah mengundurkan diri dan keluar dari zona NII, menyatakan beragam hal mengenai Aktivitas yang sangat mencurigakan, dari perekrutan hingga penggalian dana yang di rencanakan. Misalnya saja pengakuan mahasiswa  asal Surabaya, di salah satu media nasional yang direkrut pada saat pengajian.

Hidupnya  dalam keluarga pas-pasan  namun harus menjadi “tumbal” doktrinisasi Ala Negara Islam Indonesia. Pada akhirnya membohongi  keluarga sendiri untuk mencukupi setoran yang ditetapkan oleh pihak NII.

Tak main-main, puluhan juta `melayang dengan dalih kegiatan kampus. Itulah yang menjadikan dirinya keluar dari zona NII yang dirasa mulai menyimpang dan hanyalah sebiah lintah darat belaka.

Organisasi aliran keras  yang acapkali melabelkan agama sebagai background, bukanlah hal yang perdana, namun kesekian kalinya.

Pergerakan  organisasi tersebut tentunya amat bertentangan terhadap empat pilar kesepakatan nasional yang telah diramu menjadi sebuah keindahan yang terangkum dalam multikuluturalisme (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika).

Ini menjadi pelajaran telak,pada bangsa yang adi luhung. Menjunjung tingsi persatuan dan kesatuan bangsa, karena perbedaan tidak seharusnya  dI bakukan  dan dijendralisasikan pada sebuah aliran ataupun paham baru yang akan menjadi absurd. Namun hidup berdampingan, penuh dengan toleransi adalah hal utama dalam bingkai NKRI

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 12/05/2011, in Opini and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Hmm…
    Saya sependapat, NII itu ya lintah darat. Kedoknya saja berpura2 punya tujuan baik, tapi malah memaksa orang mengambil harta keluarganya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: