1001 Masalah Bali


ilustrasi:www.balebengong.net

Pariwisata memang menjadikan Bali   subur  seperti saat ini. Daya dukung  tersebut terwujud dari  perubahan besar   dari infrastuktur yang semakin tumbuh  di Pulau kecil ini. Terlalu berlebihan jika pulau Dewata terus dibuai dengan sanjungan yang meninakbobokan penghuninya.

Sebenarnya enggan untuk mengekpose  masalah yang ada di  “rumah sendiri”.  Rumah yang saat ini menjadi sumber penyakit bagi para penghuninya. Menengok masalah Bali, terlalu rumit untuk di data satu persatu. Tak lebay rasanya  kalau di katakan  Bali memiliki 1001 masalah, kalau nggak percaya, hitung sendiri!

Baiklah saya mulai dari masalah yang paling di rasakan warga kota Denpasar saat ini. Pertama,  Kemacetan.  Selain melatih kesabaran para pemiliki kendaraan, masalah ini juga pemicu menyadarkan  masyarakat untuk  mengurangi penggunaan kendaraan sesuai dengan kebutuhan, bukan dengan semaunya. Begitupun dengan  pemerintah untuk  segera menghadirkan tranportasi publik  yang layak; nyaman dan terjangkau.

Kedua, Sampah. Masih ingatkan kita semua dengan pemberitaan majalah Times sekaliber internasional ini sempat menguliti  Bali. Bali sebagai pariwisata Neraka. Yah, elit di Bali pun tak bisa berkicau banyak, apalagi menyanggahnya. Toh, memang benar tiap gang dan jalan arus utama, sampah menjadi pemandangan yang  satu paket dengan kemacetan.

Ketiga, Kontrovesi Rancangan Tata Ruang wilayah (RTRW). Gonjang-ganjing perda no 6 tahun 2009 antar Bupati se-Bali dengan Gubernur, telah menunjukkan “taring”nya masing-masing.  Penolakan hingga rencana revisi masalah aturan yang terkandung dalam RTRW  masih saja terasa vibrasinya sampai saat ini, meskipun Pemprov telah mengetok palu aturan tersebut agar di taati pemerintah masing-masing kabupaten, toh masih ada saja yang nekad untuk melabraknya. Alasannya sih lumayan kuat,  atas nama pariwisata(ANP)dan kesejahteraan rakyat. Ah, Lagu lama.

Keempat, Pengalihan Lahan Produktif . Ini yang semakin marak terjadi saat ini, apalagi di Bali Selatan dan menysul kedaerah lainnya. Dengan harja jual tanah  yang fantasis,  mau tidak mau, suka tidak suka, pemilik tanah apalagi dengan wilayah yang stategis, akan  mengamini tawaran  investor. Hal ini juga sebagi pemicu kelahiran  juragan tanah belakangan ini.

Kelima, Fenomena  Kos-kosan. Ini pun tak terlepas kaitannya dengan pengalihan lahan produktifitas  diatas. Beramai-ramai masyarakat Bali yang memiliki lahan kosong khususnya di kota Denpasar membuka rumah kontrakan  atau lebih lumrahnya di sebut kosa-kosan. Pasca penjualan lahan seperti sawah. Bukan tanpa alasan, penghasilan kos-kosan yang relatif menggiurkan sekaligus dambaan warga yang hidup di kota untuk memiliki aset  tersebut. Bagaimana dengan Anda, tertarik?

Keenam,   Wacana Go green  and Clean. Ini yang sering di dengungkan oleh  pemerintah untuk menjaga kelestarian Bali yang bernafaskan Tri Hita Karana(THK). Namun sampai saat ini Go  Green dan Clean pun di pertanyaakan statusnya. Buktinya, Denpasar masih di genangi dengan sampah dengan volume yang luar biasa tiap harinya, begitupun dengan gerakan sejuta bahkan semilyar penanaman pohan, yang nasibnya memilukan.  Pasca kegiatan tersebut, entah pohonya masih di rawat atau tidak. So, hanya sekadar menjalankan program kerja .

Masalah Susulan

Diatas hanyalah masalah yang terjadi di depan mata secara live kita saksikan.  Nah, bagaimana dengan masalah lainnya seperti budaya, pendidikan, kriminalitas bahkan konflik yang terjadi di desa yang jauh dari akses informasi media atau yang namanya Internet? Pastinya lebih banyak lagi.

 Masalah  yang di paparkan diatas hanyalah sedikit: Enam. Sisanya Sembilan Ratus Sembilan Puluh Lima masalah. Sisanya tersebut masuk dalam kategori yang mana? Jawabannya ada pada sub per sub  bagian besar masalah yang secara garis besar dipaparkan diatas. Itu  secara Sekala, belum lagi masuk keranah Niskala-nya, bakalan lebih banyak lagi. Bahkan melebihi 1001 masalah. Fantastis bukan!

Namun dalam kutipan  buku motivasi yang pernah saya baca menyatakan bahwa, “semakin banyak masalah itu  semakin bagus”, bagaimana dengan pernyataan tersebut, sekiranya masih rekevan tidak dengan konteks lingkungan hidup masyarakat Bali saat Ini? Saya kira, Ya. Banyak masalah, sebenarnya hal yang patut untuk disikapi dengan bijak. Narsis rasanya kalau hanya di sikapi, namun di berikan umpan balik dengan tindakan untuk segera di carikan solusinya.

Intropeksi diri bagi penghuni Bali. Siapapun orangnya(saya, anda, kita dan mereka), yang hidup dari sari pati pariwisata dan segala embel-embelnya.  Bali sudah kecil banyak masalah pula. Kalau tidak intropeksi, maunya apa lagi. “Ngaca” di kaca paling besar dan bertanya dengan penuh sentuhan hati terdalam, ” Apa yang sudah saya sumbangkan untuk  menjaga Bali”. Diam dan renungkanlah!

Apapun masalah Bali, kalau mau memang berbenah tidak ada kata  terlambat. Banyak jalan menuju Roma. Event yang di gelar oleh LSM sekelas Wahana Lingkungan(Walhi)  seperti diskusi publik dengan pemerintah, musisi dan masyarakat  pun menjadi alternatif yang cerdas dan  strategis.  Di tambah  dukungan seluruh jajaran lembaga masyarakat lainnya. Tak  lupa pula, peran media dan jejaring sosial dalam  rangka menyebarkan virus intropeksi  tersebut.

Semoga bermanfaat!

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 06/06/2011, in Blogging and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: