Kuliah Bukan Untuk Cari Kerja


Pasca Ujian Nasional(UN) dan pengumuman hasil kelulusan  usai, para pelajar tak henti-hentinya berjuang lagi untuk  melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.  Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur ujian tertulis 2011 yang telah di selenggarakan  masing-masing kampus ternama negeri ini, sudah terasa vibrasinya.

Kerutan kening para pelajar  untuk bisa melewati fase ini, tentu membutuhkan semangat dan dorongan dari pihak keluarga dan sekolah. Apalagi pelajar yang menargetkan pendidikan tinggi di Universitas atau perguruan tinggi ternama, maka persiapan matang wajib di lakukan.

Setelah bisa melewati fase tersebut dan lulus, status baru  pun akan  di sandang. Bukan  lagi pelajar, namun MAHASISWA! Status yang menjadi harapan bagi para pelajar yang memiliki dedikasi tinggi dan cita-citayang besar. Namun tak terlepas dari    sebuah beban moral dalam status pendidikan tertinggi, jika memaknai perjalanan panjang mahasiswa dan pergerakan di masanya.

Dunia kampus  tak ubahnya miniatur negara lengkap dengan  keadaan sosial masyarakat secara holistik. Dengan beragam dinamika perkembangan yang di hadapi, sekaligus sebagai proses pematangan pola pikir mahasiswa bersangkutan untuk berinteraksi. Layaknya kehidupan masyarakat, di kampus pun mahasiswa diperkenalkan dengan beragam tantangan (kebijakan rektorat) yang merupakan satu kesatuan hiruk pikuk dunia kampus.

Kuliah adalah Proses

Dalam inspeksi yang di gelar oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh di beberapa titik sekolah SMA di Jakarta serangkaian pelaksanaan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) jalur ujian tertulis 2011 beberapa saat yang lalu,  menilai bahwa kuliah merupakan tangga untuk menuju sukses. Namun  bukan mutlak untuk mencapai kesuksesan. Seperti yang di harapkan banyak pelajar yang kuliah di perguruan tinggi.

Memang seperti konteks kekinian kuliah bukan lagi menjadi sebuah solusi untuk menghadapi beragam tantangan sosial, seperti kesejahteraan masyarakat, pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan sosial. Bahkan nyarisnya kaum terdidik yang menikmati indahnya dunia perguruan tinggi terkadang di nilai  belum mampu memberikan sumbangan kongkret dalam menyelesaikan permasalahan yang di hadapan masyarakat.

Itu tak terlepas dari format pendidikan khususnya di perguruan tinggi yang di desain hanya untuk mengejar  nilai dan prestasi yang gemilang atau hard skill. Padahal saat  ini tuntutat di masyarakat khususnya dunia kerja dan dunia usaha   tidak hanya membutuhkan prestasi semata namun lebih pada  soft skills yang mumpuni. Potensi soft skills setiap mahasiswa, akan mengiringi kemampuan akademik siswa di bidangnya masing-masing.

Namun kebanyakan yang salah persepsi mengenai seseorang yang dikategorikan “mampu kuliah”.  Kecenderungan, menilai bahwa sehabis kuliah akan mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai dengan posisi yang diinginkan sekaligus  kewajban pasti untuk mereka yang telah lulus sarjana, memperoleh masa depan yang cerah. Padahal tidak.

Dilapangan saat ini banyak kita temukan hal yang di luar konteks dugaan opini yang berkembang.  Banyak para sarjana yang salah haluan, memperoleh pekerjaan di luar jalur ke-akademisan-nya. Itu adalah sebuah  bukti bahwa, sebagian mahasiswa  lulus kuliah belum mampu memberikan jawaban atas apa yang menjadi pijakan keilmuan selama duduk  di bangku kuliah.

Bahkan tak sedikit yang  akhirnya menjadi pengangguran berlabelkan sarjana, alias “pengangguran eksekutif”. Perlu disadari, bagi pelajar yang saat ini akan menempuh pendidikan tinggi, bahwa kuliah pada hakekatnya -dalam konteks kekinian- bukan lagi menjadi jaminan kuat untuk mencapai profesi yang diinginkan(dicita-citakan).

Namun lebih pada peningkatan kemampun untuk bersosialisasi dengan lingkungan kampus, mematangkan pola pikir dan emosional secara bertahap, mental yang kuat, mampu bekomunikasi dengan baik, mampu mencari  jaringan/relasi(sahabat) untuk ‘kepentingan’ di kemudian hari dan pembentukan  soft skill yang mengarah pada motivasi hidup yang kuat dan terarah. Itulah sebenarnya output yang di peroleh selama kuliah bukan untuk cari kerja.

Kerja adalah proses lanjutan dari “modal ilmu” plus soft skill yang di tabung selama menuntut ilmu di perguruan tinggi. Maka untuk para calon sarjana harus banyak memiliki tabungan tersebut, untuk membangun karir/wirausaha kelak di kemudian hari . Bagaimana dengan para calon mahasiswa saat ini?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 10/06/2011, in mahasiswa and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. yup…i agree ^^ karena memang ujung2nya manusia itu juga bakalan kerja…tanpa kuliah pun, orang dituntut untuk kerja….salam kenal ^^

  2. sip, ya mbk,,,salamkenal juga……

  3. ijasah S1 saya kemana ya? hmm …
    lamaran kerja doeloe pake iajasah SMA sih

  4. berarti, gk perlu kuliah donk mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: