Lawan atau Kawan


Lawan, ihwal  yang identik dengan pertentangan, sekutu, musuh, kebencian, dan hal lainnya yang bersifat perlawanan. Untuk itu, bagaimana sikap Anda jika di pertemukan pada situasi dan kondisi di luar dugaan keinginan Anda, khususnya kepada seseorang yang Anda benci ?

 Dipertemukan dengan aturan baku (sekolah, kampus, kantoran dan satu team work)  yang mengharuskan Anda harus bekerja sama dengan orang tersebut. Apakah yang akan Anda lakukan. Menerima tawaran tersebut, atau malah memutar balikkan badan Anda untuk mencari alternatif lainnya.

Itu yang saat ini saya alami. Menjadi mahasiswa yang sudah uzur di pengujung Semester 6. Melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) berlangsung di salah satu desa di  Bali yaitu Desa Penarungan, Kecamatan  Mengwi, Kabupaten Badung, tepatnya.

Dalam Kegiatan tahunan perguruan tinggi manapun yang masih mengeksiskan KKN sebagai salah satu jalan untuk mencari eksistensi kampus dan  (katanya) untuk  mengaplikasikan ajaran Tri Dharma perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian.

Di momen tersebut(KKN), saya harus (mau tidak mau) bekerja sama dengan mahasiswa dari latar belakang apapun, dari A-Z. Salah satunya mahasiswa yang belakangan di Kampus menjadi “rival politik ala mahasiswa”.

Meskipun standar mahasiswa, namun sangat ngefek secara psikologis.  Saya pun harus memaksa diri untuk berbaur denganya. Berusaha sekuat tenaga mencoba berhadapan dengan muka dingin dan bersahabat. Begitupun dia, kelihatannya sama seperti ku.

Selang beberapa hari dan minggu, setiap rapat kegiatan KKN di mulai, adu argumentasi begitu kental, antara Saya dan Dia. Kadang-kadang menyindir secara halus, dan bahkan sebaliknya.

Namun pada akhirnya, harus bekerja sama dengannya lagi, meskipun berat rasanya. Bahkan perlawanan diri untuk menolak ajakan kerjasama dalam hati, menguat dan menggugat. Namun, spontanitas mengiyakan juga. Hanya untuk menjaga keberlangsungan jalannya KKN dengan a lot, pikirku sepintas.

Di sanalah saya dan dia diuji. Apakah mampu mengesampingkan kepentingan pribadi atas “dendam “ dalam tataran kampus dengan nuansa politik “cengengesan ala mahasiswa” yang masih bergejolak.

Saya mencoba keluar dari Zona yang membayangi kebencian dan mecoba untuk menerimanya, sebagai team work dalam sebuah kelompok yang bernaung di Kuliah Kerja Nyata(KKN).

Akhirnya sampai saat ini, kami bisa saling bertukar pandangan dan pemikiran, ala mahasiswa seperti biasanya. Tak ada dendam yang tersirat, entah saya tidak tahu persis dalam hatinya. Mecoba untuk bersahabat, meskipun di dalam tataran dinamika kampus(Organisasi Kemahasiswaan) saling bertentangan prinsip.

Canda tawa, ketika berkumpul seusai kegiatan KKN dengan  program  terencana,memang menghiasi akhir-akhir ini. Terasa, Ia adalah teman layaknya mahasiswa  lainnya di kampus. Seakan tak mengenal rasa idealis yang sesungguhnya, diluar konteks kepentingan jabatan kampus (BEM,HMJ, UKM, Dll) .

“Ternyata, lawan menjadi kawan juga dalam KKN ini”, pikirku sampai saat ini. Berkat adanya KKN, saya dan dia tidak ada rasa canggung lagi. Kami terbiasa untuk sekadar ngobrol ini itu.

Meskipun,  ada jarak yang lumayan  ketika harus menyentuh “zona teritorial”  Organisasi kampus dan siapa yang akan menjabat.

Saya mencoba untuk melupakannya sejenak dan menjadi mahasiswa apa adanya tanpa adanya embel-embel jabatan kampus.  Sejenak juga memikirkan, apakah hubungan baik di KKN akan tetap bertahan sampai kembalinya kami  ke kampus?

Dengan beragam isu, dinamika organisasi yang berkembang dan sarat akan kepentingan pragmatis?

Entahlah, yang jelas kini dia bisa menjadi kawan ku untuk sementara waktu.

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 25/06/2011, in mahasiswa and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 13 Comments.

  1. Seninya itu terletak pada bagaimana kita meletakkan lawan sebagai kawan terbaik kita..

  2. ya bro, perlu kesabaran juga untuk menemukan seninya..

  3. dalam bahasa manajemenku begini …
    TIDAK ADA ORANG HEBAT, YANG ADA ADALAH TEAM KERJA YANG HEBAT

    salam

  4. ada hal-hal yang menyatukan lawan, termasuk salah satunya adalah KKN tersebut. Jadi sebenarnya lawan itu tidak abadi, bisa berubah berdasarkan konteks yang kita jalani.

  5. Ya benar Mandor Tempe, yg abadi(sempurna) hanya perubahan,,,

  6. Hebat. Di kampus saya tak ada KKN.😐

  7. Hebat, kalau KKN sesuai kebutuhan masyarakat, mas Asop

  8. wah, selamat ber-KKN, mas, semoga bisa menjadi pembelajaran berharga buat kelak ketika harus terjun di tengah2 masyarakat, termasuk bagaimana harus bekerja sama dengan seseorang yang selama ini menjadi “rival politik” di kampus.

  9. makasi, mas sawali…semoga apa yang kami lakukan “bisa” bermanfaat.

  10. Wah, berharap bisa merasakan KKN karena sehabis lulus kemaren kerja dulu, rencana tahun ini untuk kuliah sendiri juga sepertinya harus ketunda. Yang jelas, tetap kepala dingin menghadapi tantangan di atas.

  11. ok bos, makasih. semoga bisa ikut KKN ya…asyik loe,,

  12. mantab….heheh
    salam hangat dari blue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: