Hidup = Ngekos


Mungkin Anda sedikit ill feel jika membaca judul diatas, Hidup = Ngekos. Maksudnya apa? Memang kita didunia ini hidup harus membayar kosannya dengan sipa? Ibu kos atau pak kos? Ya, seperti pelajar, mahasiswa atau siapapun yang hidupnya ngekos, jauh dari rumah untuk melanjutkan pendidikan, bekerja maupun sesuatu dan lain hal.

Terus, apakah benar hidup ini layaknya seseorang yang tinggal di kos-kosan? Kalau memang benar, berarti tempat tinggal terus berpindah-pindah sesuai dengan uang yang di miliki untuk membayar kos tiap bulananya donk? Yups, kurang lebihnya seperti itu.

Bagi Anda yang saat ini tinggal dikos-kosan, ada saatnya pasti akan balik kerumah dan berkumpul dengan keluarga besar. Kan tidak selamanya tinggal disana(rumah kosan). Begitupun di dunia ini, kita tak kan abadi dan selamanya bisa menghirup oksigen  di dataran bumi yang terbentang luas ini. Pada waktu yang tepat maupun tidak, siap tidak siap, mau tidak mau kita akan di kembali kerumah semula(Tuhan).

Kalau pandangan saya, jelas “Iya”. Hidup ini memang  ibaratkan kos-kosan. Tuhan menciptakan segala isinya di muka bumi ini dengan segala maha kekuatan dan daya yang dimilikiNya. Begitu  pun untuk menempatkakan manusia pada tataran tempat atau wilayah, merupakan settingan Beliau. Bukankah seperti itu, kawan?

Berbicara mengenai tempat tinggal manusia yang telah disekat-sekat oleh Sang Penguasa sesuai dengan keinginan, kemampuan, dan bakat dimiliki. Diberikan hunian, seperti “kos-kosan” di bumi ini.

Kos-kosan tersebut yang merupakan tempat tinggal manusia, tentunya harus di jaga atau dirawat. Ibaratkan saja, Tuhan adalah pemilik kos sedangkan kita adalah para peserta yang akan menyewa kosan tersebut. Maka dengan jelas dan gamblang sebelum kita memasuki dan menghuni kosan, kita semua akan diberikan persyarakat khusus dan umum.

Persyaratan khususnya adalah  menjaga hubungan baik  terhadap pemilik kos (Tuhan), dengan penghuni kos lainnya dan lingkungan sekitar kos, agar tetap di jaga sebagaimana mestinya.  Sedangkan untuk persyaratan umumnya adalah harus membayar uang kos(kewajiban) tiap bulan/tahun.

Namun, jika kita melanggar segala aturan yang telah disusun rapih oleh pemilik kos(Tuhan) maka kita tidak segan-segan akan diusir dari kosan tadi. Meskipun, uang bulanan kita tepat waktu namun sikap kita yang kurang menghormati maupun tidak menjaga lingkungan kos, tetap saja menjadi acuan untuk memberhentikan kita ngekos di tempat tersebut.

Bukankah seperti itu?

Begitupun di dunia ini, segala sesuatu harus dijalankan secara seimbang baik dengan Sang Pencipta, sesama manusia dan lingkungan dimana kita tinggal. Namun kontras kita saksikan saat ini, di muka bumi ini. Sebagai mahluk sosial, yang memiliki status tertinggi di banding mahluk lainnya. Tak  seharusnya “menampakkan” sikap seperti mahluk yang “tak berstatus”(ini bukan ceramah, tapi mengingatkan kawan!)

Banyak yang saling membenci,menjatuhkan, dan sadisnya lagi bahkan menghilangkan nyawa seseorang. Belum lagi perusakan lingkungan yang menyebabkan banjir, longsor, dan sampai pada (bukan isu lagi ) globing warming.

Ini cuma pesan saja kawan, agar kita semua tetap menjadi penghuni terakhir di kos-kosan dengan menjunjung tinggi  sikap baik, santun dan “tak sadis”. Jika  ingin berlama-lamaan tinggal dikosan(baca:hidup di dunia ini)  seyognyanya memperhatikan dan menjalani tata tertib dari empunya kosan(Sang Pencipta).

Semoga Bermanfaat!!!

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 08/07/2011, in Motivasi Hidup, Refleksi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. tetap semangat y kawan’
    salam hangat dari blue

  2. ya, salam balik. Tetap semangt namun ingat kerja juga, he

  3. Setujuuuuuuuuuuuuuu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: