Fenomena Infotainment di Mata Publik (II)


Pada postingan kali ini, saya akan lanjutkan Fenomena infotainment di Mata Publik part II. Seperti tulisan sebelunya Fenomena infotainment di Mata Publik I, sangat jelas  kenapa manusia di Indonesia terpikat pada infotainment  khususnya warga kota yang mayoritas kaum hawa. jawabannya adalah  ingin memenuhi naluri frimitip mereka.

Yups, naluri  primitip yang begitu besar ternyata membuat mahkluk yang namanya manusia begitu ingin tahu aja urusannya orang lain. Bahkan terkadang ikut andil besar dalam mencampuri urusan orang. Wah bisa gawat tuh! Memang benar, infotainment selau identik dengan gosip yang selalu bertebaran kesana kemari, apalagi sudah menyangkut sisi kehidupan sang artis, maka runyamlah penonton di negeri ini yang begitu mengidolakannya.

Bahkan tak jarang ada infotainment di media yang begitu lebai dah terlalu narsis, mewartakan artis. Meskipun  tak terlalu penting untuk di perbincangkan. Infotainment selalu mengungkat-ngungkit hal-hal sensitif yang sebenaranya  tak sepatutnya di buka (apaan toeh ya…). Toh, publik  juga nggak begitu sewot dan bisa menganguk dengan mudahnya, percaya begitu saja, apa yang ditayangkan.  Salut deh buat infotaiment.

Gosip sebagai Labelling

Tak mengherankan, di Indonesia puluhan acara TV ditayangkan setiap minggunya untuk menyiarkan tindak-tanduk para artis yang dikagumi masyarakat, semakin menjadi-jadi. Bahkan media massa dan media lainnya yang digunakan individu(e-mail, jejaring sosial dan Blog), sebagai perpanjangan komunikasi manusia turut menyuburkan gossip.

Tak salah jika ada penyataan “ Gosip, semakin digosok semakin sip”. Dan disni lagi-lagi, peran Infotainment sebagai saluran  untuk memperluas kegemaran masyarakat kita untuk bergsoip, tercapai sudah!

Nah,terus apa dampak tayangan gosip buat para selebriti? Pastinya, mereka akan tetap terkenal atau bahkan terkenal lagi, sehingga daya tawar atau daya jual sang artis pun meroket.

Namun ada kecenderungan saat dilaporkan dari pasangan selebriti yang mengalami konflik yang menyerempet dalam kepentingan karir mereka. Misalnya dalam konflk suami istri pasangan selebriti, tentu tidak ada jaminan yang pasti bahwa apa yang diucapkan oleh bersangkutan akan ditangkap secara cermat dan baik oleh media massa, sehinga melahirkan persepsi baru dari jurnalis yang membuat laporan tersebut(wartawan).

Kemudian, muncul lah penjulukan seseorang yang di gosipkan. Penjulukan (labeling) akan menimbulkan nubuat yang dipenuhi sendiri(self-fulfilling propechy)(Dedy Mulyana, 2008).

Dengan penjulakan yang di berikan dari infotainment seperti “raja dangdut”, “Anak durhaka”, bla,bla,bla,,maka apa pun yang dikatakan akan diinterprestasikan berdasarkan penjulukan tersebut, dan semakin sulit untuk di hapus karena sudak direkam oleh publik dalam pikirannnya.

Harus diketahui bahwa komunikasi dalam penjulukan tersebut bersifat irreversible. Sekali pesan, termasuk penjulukan, disampaikan kepada khalayak, maka amat sulit  bagi siapapun untuk meniadakan sama sekali efeknya. Alias, sulit di hapus penjulukan yang telah diberikan oleh infotainment . Apapaun itu.

 Maka  jika seseorang diberitahu secara negatif, seperi difitnah, pemberitaaan tersebut akan sulit untuk mengembalikan citra si korban, ke citra seperti sediakala. Meskipun dari pihak wartawan TV memohon maaf atas kehilafan mereka samapai doer!!!. Jadi berhati-hatilah bergosip, apalagi nonton infotainment  yang banyak mengandung unsur-unsur ini itunya.

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 22/07/2011, in Komunikasi Massa and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Ngomong soal infotainment, ada yang salah sepertinya polapikir masyarakat Indonesia ini ya Bung? Namanya juga infotainment, informasi sebagai entertainment, tapi kebanyakan diterima mentah2 sebagai fakta, jadinya mental orang indonesia jadi labil juga deh. Salam🙂

  2. sip, sepakat . itulah realitas sebenarnya, masyarakat , saat ini terhegemoni ala infotainment, kasian🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: