Blog dan Jejaring Sosial, Lahan Berbagi Informasi


Sudah enam tahun  mengenal yang namanya Internet, tak menduga perkembangannya sampai saat ini; Spektakuler! Namun, baru   empat tahun belakangan ini saya dan Internet berkenalan dengan baik. Mulai berani  menggunakan beragam fasilitas yang disediakan oleh dunia maya tersebut. Begitu lengkap dan komplit akan informasi apapun.

Awal menggunakan internet terasa bingung, harus memulai dari mana. Ibaratkan supermarket, terlalau banyak produk yang mengggiurkan lengkap dengan diskonnya. Begitupun Internet, begitu banyak pilihan informasi yang menarik. Apalagi perkembangan  content internet saat ini, seperti jejaring sosial terutama facebook dan twitter. Begitu dahyat, telah menjadi candu warga kota hingga menembus warga  desa, yang gemar Up date status. Entah sekadar ngobrolin aktivitas sehari-hari, keluarga, tetangga, sosial, budaya, politik, agama,  hingga tawaran bisnis yang menjanjikan.

Dua jejaring sosial tersebut,  belakangan ini menjadi ”kebutuhan pokok “ para netizen di negeri ini. Terlebih dikota-kota besar. Jejaring sosial menjadi oase di tengah perkembangan media massa yang di pelintir dan di batasi oleh sekat-sekat kelompok tertentu.  Curhat warga jarang tertampang  di media cetak lokal maupun nasional, meskipn diterbitka, itu tentunya melewati beberapa proses berupa editan. Wajar, agar terlihat sopan dan subtil(halus).

Melihat keadaan itu, terkadang seseorang yang mengirim keluhan melalui media cetak  belum puas meskipun telah terbit di media cetak sekelas koran nasional. Karena setiap visi misi media massa berbeda, sehingga karya yang masuk dalam bentuk tulisan harus sesuai dengan selera editor. Bukan  si empunya tulisan. Maka, jangan heran makna(pesan) yang acapkali disampaikan penulis, jauh berbeda  dengan apa yang telah diterbitkan di koran. Karena “ulah dan  selera” sang  editor,  si empunya media.

Tunggu dulu, tidak sampai disana saja. Tulisan yang dikirimkan ke media pun harus memenuhi beragam syarat penting. Dari gaya bahasa, jumlah kata, aktual tidaknya sebuah tulisan dan acapkali, tulisan opini di koran pun setidaknya berkaitan dengan isi editorial, headline media bersangkutan, serta isi  tulisan yang memiliki gaung besar (politik  dan tokoh tertentu) yang selalu menjadi goncang-gancing kekuasan di republik ini.

Nah, bagaimana dengan mereka yang ingin mengirimkan opini(tulisan) mengenai keadaan sebuah daerah, yang jauh akan akses dan infrastruktur pendukung yang merupakan janji dari pemerintah saat ini. Atau, menuturkan tumpukan sampah di gang depan rumah yang menggangu. Namun sayang, penulisnya adalah “orang biasa”. Tanpa memiliki jabatan yang wah, atau pun  sederet titel yang berjubel. Apakah di perhitungkan untuk terbit disebuah media cetak?  Jawaban saya:  TIDAK!

Di era citizen Journalism saat ini, meskipun awak media menginginkan feedback(umpan balik) warga untuk berkontribusi sebagai pewarta, baik berupa teks(tulisan) dan foto, namun masih ada saja media mengidamkan   ‘Siapa Penulisnya’ bukan ‘Apa yang dituliskanya’. Dengan adanya internet sebagai ruang informasi tanpa sekat, warga mulai memaksimalkannya dengan karya murni tanpa editan dari editor media massa manapun. Itu orisinil dengan makna  lebih jelas dan sederhana,  tidak bias!

Mulai  Berkarya dan Berbagi Informasi

Jejaring sosial yang dekat dengan masyarakat saat ini seperti  blog, facebook dan twitter, membuka pintu dan aliran warga untuk “garang” dalam menyampikan informasi. Kran demokrasi khususnya di Indonesia juga berpengaruh pada perkembangan media cetak dan elektonik, terlebih Internet. Kelahiran  jurnalisme warga, memberikan keleluasan masyarakat sebagai pewarta tanpa ada campur tangan dari pihak media konvensional  maupun pemerintah.

Namun acapkali pemerintah mencoba “masuk” untuk memproteksi diri. Beberapa tahun belakangan ini kasus-kasus besar, setidaknya menjadi pusat perhatian petinggi elite yang wa-was dengan peran blog dan jejaring sosial. Pasalnya, publik dengan mudah saat ini  mencari, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Hal ini lah yang acapkali membuat para elite berfikir ekstra untuk membuat dan merancang regulasi berinternet.

Lihat saja kasus yang  datang dari tubuh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Siapa yang tak ingat dengan cerita unik “ Cicak Vs Buaya “ yang menyeret 2 nama pimpinan kondang, Candra Hamzah dan Bibit Samad Rianto. Melalui peran Facebook ( juga ) dalam “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto”.

Selain itu ada juga “Gerakan Koin untuk Prita “ yang menuntut keadilan  berhasil memenangkan suara di peradilan melawan kebengisan Rumah Sakit OMNI Internasional, karena Lantaran Rumah Sakit yang diadukan tidak mengakui pengakuan yang dilontarkan Prita, justru beliau dianggap sebagi pencemar nama baik instansi kesehatan tersebut. Pada akhirnya harus  sampai kemeja hijau, dan belakangn kasus ini pun semain mengemuka lagi.

Bersyukurlah hidup di era digital saat ini. Masyarakat tidak bisa lagi bungkam terhadap kenyataan yang dilihat, disaksikan dan dirasakan. Kini publik dengan mudah menuliskan  susunan bait kata perkata kejadian yang ada di depan mata. Merangkumnya menjadi sebuah tulisan yang menceriakan kondisi sebenarnya di lapangan secara khas. Jejaring sosial(facebook, twitter) lah tempatnya. Media ini bukan sekadar untuk bermanja-manjaan untuk memposting aktivitas sehari-hari semata, namun  menjadi media sejuta umat unuk  menerima berbagi informasi berharga lainnya. Pesan yang disampaikan dalam media tersebut seyogyanya mendapatkan tanggapan dan mampu memberikan paradigma baru terhadap perubahan sosial yang menimpa masyarakat sekitar.

Paradigma baru dan perubahan sosial bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata ‘akibat’ dunia maya. Meskipun  masih terbatas dengan jumlah kata seperi Twitter yang mencapai 140 karaker dan facebook 300 karakter. Namun  jika dilakukan terus secara prokduktif dan kontinyu, bukan hal yang mustahil perubahan yang diinginkan akan terjadi. Dalam Tangga Teknografi Sosial yang diperkenalkan Forester Reaseach yang saya kutip dari buku #Linimas(s)a oleh   Nukman Luthfi, “Bermakna di Lautan Sosial”, jejaring sosial merupakan tangga kedua yang  disebut dengan Conversationalist.

Begitupun dengan blog, meskipun penggunanya tidak sefantastis  jejaring sosial (facebook, twitter) namun, media satu ini memberikan ruang lebih luas lagi bagi para warga untuk berbagi informasi, apapun itu. Dari tulisan, foto hingga  video bisa menjadi bahan diskusi yang menarik di forum para blogger. Ini adalah forum yang  lebih luas dan jelas  untuk menyampaikan informasi. Berbeda  dengan jejaring sosial yang dibatasi dengan karakter setiap kali posing-nya. Komentar  dari pembaca blog, bisa menyampaikan  tanggapan berupa sanggahan, masukan ataupun solusi terhadap suatu masalah, tergantung tematik blog bersangkutan. Dalam Tangga Teknografi Sosial, blog termasuk Creator atau tangga pertama.

Dalam hal ini blogger memang tepat digolongkan sebagai pekarya. Mereka berkarya untuk membuat  tulisan, apapun kategorinya. Apalagi  yang di update secara konsisten dan persistensi, ini tentunya baik dalam mengembangkan kemamupuan dan wawasan warga secara holistik. Yang jelas, pilih jejaring sosial maupun blog, keputusan ada di tangan Anda. Yang terpenting adalah mulai  berkarya untuk bangsa ini dan tidak malas untuk berbagi informasi, apapun bentuknya.

Inernet Itu(sekali lagi) Hebat!

Setelah membaca  buku #Linimas(s)a, kisah Blasius Haryadi  seorang tukang becak yang bermukim di Yogyakarta dimana dalam perjalanan  kehidupan sehari-hari begitu  jauh  seperti pemkiran tukang becak lainnya di negeri ini. Ia dengan lihai memanfaatkan Inernet sebagai media tepat untuk mempromosikan jasa dan kota dimana ia tinggal. Jejaring sosial di pelajarinya, hingga memiliki banyak teman dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Hebat, itulah tukang becak ‘gaul’ yang mampu mengadopsi tekhnologi  globalisasi sesuai dengan kebutuhan.

Bukan sekadar gaul saja, namun dari jeri payahnya yang rajin up date satus di jejaring sosial seperti Facebook, hasilnya pun di peroleh hingga bisa menerbitkan sebuah buku. Perlu diingat, ia hanya tukang becak!  Mungkin itu hanya satu tukang becak yang suskses di dunia maya, sekaligus bisa menjadi refrensi para tukang becak senusantara, dan para insan melek IT lainnya. Bahwa inernet bisa diakses oleh siapaun, tanpa memandang status maupun Profesi.

Entah tukang becak, penjual sayur, pedagang bakso, petani, buruh, mahasiswa, guru, dosen, hingga Presiden sekali pun. Penggunaaan internet secara bijak akan menuai hasil yang bijak pula. Internet itu(sekali lagi) Hebat!. Hebat karena mampu menjadi media unuk berkomunukasi tanpa batas, oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Tinggal bagaimana seseorang mampu mengendalikan internet untuk bekerja secara optimal, bukan sebaliknya.

Proteksi Diri dalam Berinternet!

Sepakat  dari para tetua maupun pengamat IT menyatakan bahwa Informasi adalah suatu mantra sakti yang tersebar luas di abad ini. Sifatnya yang massal dan murah serta nyaris tak berbatas menjadikan internet menjadi senjata ampuh yang digunakan masyarakat sipil. Begitu ampuhnya internet dalam mendorong kebebasan  berekpresi, berpendapat, dan kebebasan pers secara timbal balik menyokong transparansi keterbukaan informasi dalam bentuk apapun.  Perkembangan internet saat ini terus meningkat sesuai dengan kebutuhan masyarakat di eradigital. Namun dua sisi mata pisau intenet tentu menjadi pijakan dalam pemanfaatannya. Entah digunakan secara positif atau malah sebaliknya.

Pengguna intenet tidak hanya dilakukan  orang dewasa maupun orang tua saja yang aktif sebagi penunjang profesi.  Anak-anak  hingga pelajar pun gemar akan Internet saat ini, apalagi kehadiran jejaring sosial dan game on-line. Tentunya ini menjadi momok yang menakutkan bagi para orang tua dalam mengontrol buah hati. Perlu langkah kongret dan antisifasi tepat, namun seyogyanya memberikan keleluasan dengan batasan yang terperinci.

Misalnya penggunakan facebook dan twitter. Orang tua bisa banyak membaca refrensi dan paduan khusus mengenai dunia internet dan kiat bagaimana cara mnegantisipasi secara tepat, misalnya membaca e-book internet sehat. Selain itu, bisa juga menginstal  software pengaman di kompuer/laptop. Namun   Yang harus diingat adalah, apapun bentuk dan jenis  software yang tersedia tidaklah menggantikan peran orang-tua, atau siapapun orang terdekat  dalam memberikan keamanan dan kenyamanan anak selama ber-Internet. Software hanyalah alat bantu, yang tidak bisa menjamin dengan hitungan persen dalam menghalangi materi negatif dari Internet.

Semoga Bermanfaat.

 

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 30/07/2011, in Blogging and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Live must go on

    Slm knal Bli Awitara

  2. ok, salam kenal juga. makasih dah berkunjung ….

  3. apapun makanan-nya… ngeblog jalan terus😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: