Antara Keluarga dan Organisasi


Jam di dinding menunjukkan pukul 10.00 Wita, suasana di luar rumah begitu suram dan buram. Suram karena hawa dan lingkungan sekitar tak berdenyut sedikit pun, ya sepi. Buram karena awan gelap membanjiri kawasan pekarangan rumah, belum lagi hujan yang turun dengan sopannya, dramatis dikit🙂

Datang setelah menjemput keluarga, keponakan menyodorkan hp untuk  berbicara dengan kakak  sulung yang telah menikah dengan dambaan hatinya, namun jarang ada kabar.Hmm,  karena miss komunikasi, memang ini adalah alasan yang terlalu formal untuk membela kemalasan diri saya.   “Nih, ngomong sama kakak mu mumpung lagi banyak pulsa, ‘ ujar ponakan menyodorkan Hp Smartphonenya.

“ya,  karang aku ngomong, mumpung lama tidak main kerumahnya,” jawabku .

“halo, gimana kabarnya,” tanya ku singkat.

“halo, tumben nelpon, ada apa Gus, “ jawab dan tanyanya singkat lagi .

Sudah lama nggak berkomunikasi, baik sekadar SMS atau Nelpon, entah kenapa. Semenjak ia menikah, seakan ada batasan untuk berkomunikasi. Saya berfikir, karena ia telah ikut suami dan keluar dari lingkaran keluarga , saya anggap ia tak pernah ada hubungan dengan saya. Ternyata   Itu adalah anggapan yang salah besar.

Padahal jika saudara kita menikah dengan siapapun,  itu adalah sebuah peluang yang bagus untuk membangun jaringan. Ya, apalagi kakak saya menikah jauh dari tempat saya tinggal. Bagi seoarng yang  jeli dan peka hal tersebut, keadaan tersebut tentu bisa dimanfaatkan untuk mencari informasi tentang apapun yang diinginkan.

Ternyata hal tersebut, bertolak belakang dengan pemikiran saya. Malas dan apatis.

Sebagai seorang mahasiswa, dalam  kehidupun saya sehari-hari selalu disaingi dengan beragam aktivitas kampus. Dan acapkali saya di  cap sebagai seorang Sok Sibuk. Cap ini  selalu melabeli kepribadian saya. Apalagi sedang ngumpul dengan keluarga. Berbaur dengan organisasi di kampus selalu menjadi alasan utama untuk menghindar dari keluarga. Karena sudah keasyikan.

Padahal kalau ada apa-apa keluargalah yang paling utama. Namun saya tidak, kalau ada apa-apa yang pertama saya hubungi adalah orang-orang terdekat di organisasi. Dialah keluarga utama dalam kehidupan di kampus. Toh pada akhirnya, kebutuhan finansial berujung pada keluarga dirumah.Dasar  anak Durhaka.

Ini acapkali menjadi pikiranm saya, sampai di bawa dalam mimpi. Keluraga menurut teman ku adalah segalanya, semuanya bersumber dari sana. Namun menurutkan berbeda. Sejak berkenalan yang namanya organisasi, kehidupan ku penuh dengan warna yang berbeda. Ada target dan sasaran. Pelajaran berharga banyak kutimbang dari sana.

Namun suasana penuh dengan kehangatan yang berbeda dari organisasi. Keluarga bisa memacu semangat untuk berorganisasi, itu kalau didukung ama keluarga, kalau angak, maka bergam cara di kerahkan untuk menghindar dari  ceremonial keluarga.

Meskipun jarang ngumpul dengan keluarga, namun sekali kumpul senangnya minta ampun. Anehnya,  setelah (maksimal) 4-5 jam berlalu suasana jenuh muncul lagi, ingat  dengan akivitas organisasi yang menantang dan menggairahkan…wieh🙂. Jadi lagi-lagi, kepikir organisasi meskipun sedang lagi dengan keluarga.

So, bagaimana dengan anda yang pernah sibuk di organisasi di kampus, sosial  atau baru  mau bergabung dengan organisasi ?

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 04/08/2011, in Refleksi and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Salam kenal, makasih udah berkunjung, Saya tinggal di Seminyak🙂

    Saya dari dulu suka sibuk dengan organisasi, karena saya emang orangnya gak mau nganggur dan manfaat organisasi itu emang baik untuk masa selanjutnya namun terkadang emang waktu buat keluarga jadi gak ada…. tapi sepanjang organisasinya emang bermanfaat udah pasti keluarga mendukung dan saya sih saat sama keluarga suka cerita tentang kesibukan maka mereka ngerti..

  2. organisasi atau keluarga?? saya memilih imbang lah. bagaimanapun keluarga tetap membutuhkan perhatian kita, organisasi pun tetap penting untuk membentuk watak kepemimpinan. jadi harus imbang. saatnya pulang kampung dan bersua dengan keluarga ya pulang dulu, ntar dilanjut lagi organisasinya. hehehe
    tapi emang sih kenyataannya kadang suka berat sebelah ke organisasi. sejauh bisa mengemukakan alasan ke keluarga pasti keluarga mendukung.

  3. @Pendar: baguslah, kalau keluarga saya gk terlalu menyambut dengan baik sih, tapi saya terus berusa untuk membuat kan alasan yg meyakin kan🙂

    @Marchei: ya sih, namun realitasnya lumayan sulit juga kan ngattr waktu antara keluarga dan organisasi…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: