Kisah Mahasiswa Minta Uang dengan Rektor


“Jangankan berhubungan dengan Rektor, bagi mahasiswa pada umumnya berhadapan dengan  Dosen pun ogah, kalau tidak demi nilai kuliah semata.”

Itulah mungkin terbenak pada sebagian besar mahasiswa yang memang “alergi” yang namanaya kelembagaan kampus (Rektorat). Bukan bermaksud untuk memberikan ‘vitamin’ benci, namun inilah realitanya.  nampaknya,  berbeda dengan sosok mahasiswa yang saya kenal di salah satu Perguruan Tinggi (PT) negeri di Denpasar,Bali , sekaligus tempat dimana saya kuliah.

Sebut saja Fredlin (20), mahasiswa asal Indonesia bagian Timur tersebut, tepatnya Desa Waenono, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Maluku.  Di Denpasar, ia tinggal di rumah kos-kosan satu kompleks dengan mahasiswa yang berasal dari luar Bali, seperti Sulawesi Selatan, Ambon dan Kalimantan Barat. Fredlin, nama akrabnya di kampus, logat bicaranya yang khas, acapkali membuat saya ketawa sendiri. Ia memang asli keturunan Ambon, ia baik dan asyik kalau diajak diskusi , apalagi topiknya mengenai sistem pendidikan di Indonesia, oh, pokoknya dia banget deh.

Gayanya yang kocak, acapkali membuat saya malu di depan mahasiswa/i lainnya. Ia  sering kali membuat ulah  “memalukan” yang berdampak langsung,  pada siapapun yang bersamanya. Termasuk saya! Pokoknya siap-siap pasang  muka tebal. Ia tidak aneh, namun prilakunya yang tergolong aneh dan  langka, membuat saya menjadi korban ”memalukan”  dihadapan orang banyak. Namun itulah karakter dan sikapnya, saya tetap menghargainya sebagai seorang teman, meskipun pahit, yah tahan saja lah!!!

Pernah saat sedang ngumpul dengan teman-teman organisasi di kampus yaitu  Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) di ruang Sekretariat tepatnya sebulan yang lalu. Pada  saat itu kami sedang mendiskusikan mengenai isu kampus yang lagi santer, kebijakan rektorat. Namun usai itu kemudian dilanjutkan dengan acara bebas. Fredlin  bertutur banyak tentang kehidupannya selama tinggal di Denpasar. Sebuah kota yang dianggapnya jauh megah, lengkap  budayanya,  di banding tempat tinggalnya, tak luput pula gadis-gadis Bali menjadi bahan obrolan kala itu.

“Hidup dikota tidak gampang yah, harus punya banyak duit, “ katanya  sambil SMS-san entah dengan siapa. Lengkap dengan logat khas Malukunya yang rada-rada cepat, diakhiri dengan intonasi melengking. “Makanya jangan kuliah di Bali, kasian  duitnya,” jawab teman menagggapi keluhan Fredlin. Ia tidak melanjutkan keluhannya lagi, apalagi mau merespon pernyataan teman yang satunya.

Kemudian dengan spontan ia menyatakan, “Kalian pernah gak minta uang di pak  rektor?,” pertanyaannya tersebut tak ada yang menjawab, semua hanya mendengarkan ocehannya.

“Pernah nggak” , tegasnya lagi. “TIDAK!”, kataku kompak dengan teman-teman yang lain. “Wah, berarti cuma aku saja yang berani minta  uang dengan pak rektor, hahaha…,” dengan bangga ia ketawa.

Namun kami hanya termangu mendengar pernyataan konyolnya tersebut. Antara  percaya dan tidak. Lagi, ia meyakinkan kami  mengenai keberaniannya meminta uang dengan rektor di kampus. Untuk menghargai keberaniannya, saya pun menayakannya lagi dengan serius.  “Benar kamu pernah  minta uang di pak  rektor?,”. Lebih bangga lagi ia menegaskan bahwa ia memang pernah meminjam uang lengkap dengan alasannya di hadapan  pak  Rektor, sungguh meyakinkan dengan muka melaratnya, :)  “Iya iyalah , Fredlin gitu loeh,” tambahnya lagi.

Saya dan kawan-kawan lain terkejut mendengarnya. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal.  “Gila kamu ya, beraninya minta uang dengan rektor, emang kamu siapanya rektor ?” clekik teman yang lain.

“Ya… gimana lagi, di Bali  tidak  punya siapa-siapa, dulu waktu kuliah kesini Om yang nyuruh, ia kenal baik dengan pak rektor di kampus, jadi kalau gimana-gimana, aku disuruh ngomong langsung dengan Rektor, sekarang aku nggak punya uang, ya aku ngomong dengan  pak rektor, dia kan bapak di kampus, hehehe…” urainya panjang sambil cengegesan.

“Dasar, nekat benar kamu ya, emang nggak malu apa, minta uang dengan rektor,” tanya teman ku meledek. “ Kalau malu, aku nggak makan disini tahu,” suaranya menggelegar panjang, teman lain pun hanya bisa menertawakannya.

Menurut pengakuannya ia diberikan uang 500 ribu rupiah.  Meskipun kurang , tapi ia mersa senang. “Lumayan lah,  uang bulananku juga belum dikirim dari Maluku,”kataya tersenyum dengan lebar. Saya dan kawan-kawan  hanya bisa tertawa lepas, baru saya dengar dan saksikan pengakuan dari seoarng mahasiswa  yang berani  minta uang dengan Rektor di Kampus, nekad betul.

Ini bisa juga menjadi refrensi bagi mahasiswa se-Nusantara, atau bahkan sedunia, kalau nggak punya uang atau kiriman telat datang, seyogyanya bisa menggunakan alternatif tersebut. Tentunya   bersiaplah memasang muka tembok untuk menagkis rasa malu.  Bagaimana ?

Bukti telah memfollow capture dan image:

Hasil postingan Twitter :



About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 21/08/2011, in Blogging and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Irfan Handi

    Nekad membuahkan THR. He.he . . .
    btw, follow twitternya udah rame ya bro. sukses selalu.

  2. tambahan referensi yang bisa dicoba hehe😀

  3. @irfan: belum bos,,kayaknya salah toh,,,
    @pakgurugoblog: sip, silakan, kalau berani🙂

  4. NardaKismoVIII

    ehh REKTOR apa an sih ??? haha

  5. Irfan Handi

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H.

    “MINAL AIDIN WALFAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.”

  6. @nardakismo: masak gk tau? kalau di SD, SMP, SMA dikenal dengan kepala Sekolah, kalau dikampus namanya rektor. lum kuliah ya?

    @irfan : SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H, juga,:)

  7. Ha Ha Ha…boleh juga…tapi saya sepertinya tak akan pernah lakukan…karena ada banyak cara buat nambah uang saku kan…..

  8. sip deh,🙂 tapi gk ada salahnya, hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: