‘Mas’ yang Produktif dan ‘Bli’ yang Konsumtif


Bulan puasa telah usai dipengujung Agustus ini. Umat Islam seluruh nusantara  hingga dunia merayakan, tentu bagi pemeluknya. Serangkaian  hari raya Idul fitri  sebagai “paketannya”,  selama sebulan penuh ini akan dirayakan dengan penuh kemenangan.

Umat Islam yang Urban di Kota Denpasar, Bali, tempat saya tinggal saat ini, juga merayakannya penuh dengan  suka cita layaknya hari Raya Galungan,  yang dirayakan Umat Hindu beberapa bulan yang lalu.

Sejak  H- 5 lebaran, pedagang kaki lima, penjual gorengan, lalapan, penjual sepatu second, penjual pernak-pernik kebutuhan anak muda, hingga langganan tempat anak kos untuk makan pun, tertutup rapi. Sepi!  Para penjual  kembali ke kampung masing-masing, mayoritas kaum urban yang ada di Bali berasal dari Pulau Jawa, NTT, NTB, Sumatera dan sisanya daerah lainnya.

Bahkan menjelang H- 3 lebaran, beberapa teman kos mengaku sulit memperoleh makanan. Yang biasa ditempatinya nongkrong untuk santap malam pun sepi . Betapa  sulitnya menemukan pedagang makanan seperti bakso, lalapan, bahkan nasi campur dengan harga miring, ketika para  “Mas Jawa” mudik.

Kelimpungan, termasuk saya! Mondar-mandir cari makanan murah. Maklum yang biasa menjual makanan murah plus dengan kuantitas yang nggak main-main kan, para mas-mas dari jawa🙂 Kalau beli masakan Bali, ada, tapi kuantitasnya yang masih jauh dari harapan.  Apalagi cuma beli Rp 5.000  mungkin lagi sejam sudah lapar, ( Huah dasar anak Kos) ….

“Lebaran ini, semua pedagang pulang ke Jawa, di Sengol ( pasar malam) jadi sepi,” kata kakak sepupu saat menunggu pesanan Sate Ayam, yang tak jauh dari rumah.”Ya, nyari lalapan juga sulit,”kataku menyambung.

Saking sibuknya penjual sate melayani konsumennya, sepupu saya yang satu itupun gayanya tak karuan, mungkin membosankan, mondar-mandir. Sampai-sampai  menunggu hingga 45 menitan, waktu yang terlalu lama  apalagi suasana perut yang tidak menundukung: Lapar!

“Sabar ya mas, tunggu sebentar,” kata penjual Sate kepada kami. Kami berdua  cuma bisa  mengangguk dan melihat aksinya mengolah bumbu sate.

Melihat tingkah penjual sate dengan gesitnya, mengipas sate ayam diatas besi hitam pekat, diikuti dengan bara yang menyala terang. Asapnya semakin mengepul seiring  kayuhan tangan Si Mas penjual Sate yang semakin cepat. Ah ribet…

Ini memang nampak setiap ujung kota Denpasar. Suasana lengang, khsusunya pedagang yang menjajakan makanan   pada sore hari, bisa dihitung dengan jari. Bahkan setiap  satupenjaja makanan, selalu dikerumuni oleh para pembeli. Begitu membludak, ramai.

“Beginilah  kalau terlalu banyak yang hidup dengan gaya konsumtif, cieh.  Jarang yang mau masak sendiri dirumah, maunya praktis, tinggal menyodorkan sekian rupiah, makanan yang diinginkan  pun siap di dapat ,” pikirku .

Bahkan tak jarang, beberapa penjual yang saya tanyakan, apakah pulang atau tidak pada lebaran tahun ini, menyatakan : TIDAK! “Lebih baik lebaran di Bali, sambil cari rezeki”,  kata salah satu penjual nasi goreng langganan saya, terletak 2 Km dari Art Center, tempat pertunjukan Seni terbesar di Denpasar.  Salut deh!

Begitu banyak lahan produktif yang bisa dimanfaatkan  sebenarnya oleh orang Bali pada khususnya, namun sayang itu tidak bisa dibaca dengan baik dan direspon dengan bijak. Malah  menjadi tersingkir, akibat pendatang. Jangan salah, jika banyak penjaja makanan yang di produksi oleh kaum urban, baik  menetap maupun tidak. Sedangkan  Masyarakat Bali sendiri  menjadi penonton.

Masyarakat Bali pada umumnya malu untuk menggeluti profesi sebagai tukang bakso, penjual mie ayam, nasi goreng dan sejenisnya, karena lagi-lagi itu dianggap pekerjaan  yang amat ‘memalukan’ dan kurang menjanjikan. Meskipun tidak semua, tapi pandangan ini dapat menggambarkan realitas sebenarnya.

Sehingga menjelang lebaran tiba seperti saat ini,  para “Bli”(sebutan untuk lelaki dewasa, sedangkan di Jawa disebut dengan “Mas”) yang konsumtif pun kelabakan. Mencari para ‘Mas’ produktif seperti penjual bakso, nasi campur, mie ayam, dan lalapan. Jadi  repot deh…

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 29/08/2011, in Ekomania and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Ha Ha Ha ha….

    salut dech….dan saya jarang mendapatkan pengakuan dari seorang “asli Bali” yang mengatakan orang Bali asli jarang menggeluti profesi ini karena malu…

    Realitanya, sebenarnya bukan karena itu saja….kami para perantau emang menjadi lebih cerdas karena kenyataan yang membuat kami emang nggak boleh kalah dari penduduk asli, karena kami memang harus demi menyambung hidup🙂

    Eh, saya mudik ke Malang dan si Malang juga lenggang jalanan karena semua pelajar dan pendatang pada mudik. Kebanyakan isi kota Malang juga pendatang karena kebanyakan mereka adalah pelajar.

  2. HA,,HA…HA..ya mbk, saya salut dengan pendatang. tapi jangan salah juga mbk orang Bali yang rantau di luar sana juga, rajin. Mungkin karena dalam kandang, ya, jadi males,,,:)

    Sebagain besar warga negeri ini kayaknya seperti itu, “nyaman” ketika berada dalam zonanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: