Dilema Pasca Lulus Kuliah


Tahun ajaran  2011 bagi  mahasiswa baru akan hadir dalam lingkungan perguruan tinggi (PT). Status  menjadi mahasiswa sudah di sandang, kebanggaan tersendiri karena telah menanggalkan seragam abu-abu bahkan “roh” UN tak lagi membayangi.

“Ini perguruan tinggi bukan lagi sekolah menengah atas maupun sejenisnya”. Mungkin itu dibenak  sebagian mantan pelajar yang telah berubah status.

Atmosfir akademis akan  dirasakan para agen intelektual  ini. Beragam aktivitas, dari menjalani OSPEK hinggga tetek bengek almamater wajib di ketahui. Begitupun dinamika kampus, hadir di hadapan mahasiswa baru—mata kuliah,organisasi, dunia kerja, pencapaian cita-cita—menjadi satu paradigma.

Selanjutnya, jurusan pilihan yang  ditempuh dalam pergurun tinggi umumnya “dianggap” peluang untuk memperoleh pekerjaan kelak setelah lulus.  Mulai  mengkonsentrasikan secara serius, bahkan tak sedikit mahasiswa bangga dengan jurusan yang  berlabel  “elite”: jurusan yang membutuhkan  anggaran tak sedikit. Fantastis!

Namun nyarisnya, ada juga seseorang yang kuliah tak tahu arah dan  tujuan. Tak banyak calon mahasiswa bingung ketika melanjutkan perguruan tinggi, bahkan harus kandas di tengah jalan, dengan alasan-alasan tak masuk akal.

Ketika melanjutkan ke PT hanya dijadikan sebagai ajang motivasi semata, atau sekadar  partisipan, mengikuti rekan sejawatan. Padahal, tanggungan yang dikeluarkan oleh orang tua begitu luar biasa.

Materi, waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Apa yang diharapkan tak sejalan dengan tujuan awal. Tak bisa dipungkiri,  faktor eksternal lainnya pun turut sebagi pemicu kerancuan studi mahasiswa dalam perguruan tinggi.

Misalnya saja, gembar-gembor dari  institusi perguruan tinggi dengan  mengeluarkan “ultimatum”, dimana akan  mencetak mahasiswa yang siap kerja dan menjamin kesuksesan, di sela-sela selebaran media cetak dan Baliho.

Pada akhirnya  mahasiswa “terjebak” akan rayuan iklan PT, tak sedikit merasa kecewa, karena tidak sesuai dengan harapan!

Prestasi Teoritis

Memang menjadi kebanggan bagi mahasiswa terlebih orang tua ketika memperoleh prestasi akademis di perguruan tinggi. Pencapaian prestasi tentu idaman semua mahasiswa secara general.

Tak menutup kemungkinan, apapun akan di tempuh  demi memuluskan nilai yang diidamkan, meski  dengan cara-cara abnormal sekalipun!

Bahkan ‘jurus’ pendekatan dengan pengajar dan pejabat terkait di kampus (Dosen dan Rektor), menjadi sasarann manis mahasiswa. Mencoba melakukan cara semaksimal mungkin, atas nama nilai mata kuliah.

Tak bisa di pungkiri, prestasi yang seharusnya diperoleh dengan penuh perjuangan, pembelajaran yang matang, serta  dedikasi yang kuat, malah di peroleh dengan mudahnya. Sama seperti para elite di negeri ini.

Setidaknya, ini merupakan akar  kuat dari tumbuh suburnya praktik KKN, karena telah tertanam pada nilai-nilai pendidikan kita saat ini, termasuk perguruan tinggi dalam memeproleh nilai. Bukankah seperti itu?

Tak lebihnya, kuliah sekadar memburu nilai semata untuk memperoleh prestasi teoritis, ketimbang prestari aplikasi dalam masyarakat terkait bidang keilmuan.

Dilema  Lulus Kuliah

Sebuah  momok yang menakutkan, ketika para mahasiswa mulai memasuki jenjang terakhir dalam perguruan tinggi yang ditandai dengan penyusunan karya ilmiah.

Disibukkan dengan penelitian lapangan dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai praktik ala perguruan tinggi, yang tidak lain sebagai penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu  Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian.

Terkait terlaksana atau  bermanfaaatnya di masyarakat, itu urusan belakang, yang penting telah terwujud. Titik. Sekadar formalitas! Namun tibalah waktunya saat lulus kuliah dan telah meraih kesarjanaan, tak sedikit yang kewalahan dengan status yang dimilikinya.

Menjadi sebuah dilema besar saat lulus perguruan tinggi tiba , arah keprofesian yang diinginkan acapkali tak sejalan, bahkan berbanding terbalik. Realita sudah membuktikan bahwa pendidikan tinggi (kita) tidak mampu menjawab tantangan yang ada di lapangan, seperti pengentasan pengangguran maupun peningkatan lapangan pekerjaan, malah sebaliknya.

Segudang teori yang dimiliki sang agen perubah (baca: Mahasiswa) tak ada artinya ketika terjun dilapangan secara riil, tanpa terikat dengan nilai. Dilema  ini akan berbuah manis jika Si mahasiswa mau berfikir kedepan bahwa, status kesarjanaan lengkap dengan  keilmuan yang   dimiliki tak pernah berjalan dengan  “formalnya”, bukan seperti penyusuan skirpisi atau ujian akhir: tersistematis. Selalu penuh dengan rahasia dan kontradiktif.

Jadi, untuk menyikapi ihwal tersebut  seyogyanya mahasiswa bersikap fleksibel untuk menerima semua kemungkinan pasca lulus kuliah sehingga tidak menjadi sebuah dilema yang menyakitkan!

Sumber Fotom: disini

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 17/09/2011, in mahasiswa, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. Saya dulu menganggap kalau nilai tinggi di akademis itu penting banget, pendidikan itu penting banget, yes, itu penting tapi ternyata gak banget karena pendidikan terlalu tinggi untuk beberapa orang tertentu ternyata membuatny keras kepala dan beranggapan mereka yang paling tahu n paling benar, he he he

    Eh, saya nyindir beberapa oknum nie ya, he he he

    Dilemma itu juga pernah saya rasakan pas lulus SMA dulu bahkan lulus SMP, tp saat usia2 itu pastilah pendapat orang lain (jurusan ini keren, sekolah di sini bagus dsb) masih mempengaruhi banget jadi bukan murni keputusan dari dalam diri.

  2. Btw, November nanti ada acara Asean blogger di Bali info Blogger Bali lain ya…saya masih nyari2 nie kira2 ada berapa di Bali.

  3. banyak nich diantara mereka yg sudah lulus malu jadi pekerja kasar….. maunya enak n gaji gedhe……….

  4. banyak sekali ya yang sudah mendapatkan gelar tetapi susah cari pekerjaan,ada juga yang dapat pekerjaan tapi tidak sesuai dengan bidang yang dia ambil waktu kuliah…

  5. @pendar: sip gk pa2, kuliah kan banyak tujuan, emang sulit untuk menentukan arah jurusan yang potensial secara subjektif, terlalu banyak yg ikut campu dalam hal tersebut,🙂

    o, ya , untuk acara asean Blogger kemarin aku dapat info dari milis BBC, jadi perkembangannya bisai update di sana, ikut jadi panitia juga mbk?

  6. @ menone : i yalah, sedikit pragmatis, sesuai dengan tuntutan hidup, keputusan dtangan masing2, yg jelas pendidikan tinggi (sepert saat ini ) bukanlah sebuah jaminan.

    banyak yg harus “berbelok arah” untuk mengggeluti profesi yang jauh dari kelilmuan,, itu lumrah!!!!!

    @nopha : ya mabk, titel-nya hanya ” pajangan” cantik nan indah, dan sewaktu2 di “pamerankan” di hadapan orang yg membutuhkan hmmm…🙂

  7. Aku gak ikut jadi panitia, tapi aku dimintai bantuan buat koordinir, minimal kan harus dapat 50 blogger di Bali….

    See you there dech…. 😉

  8. sip, biar bisa langsung kenalan dengan mbk pendar bintang cantik,🙂

  9. ok, see you to…
    aku daftar atu ya😉

  10. dalam dunia pendidikan menengah pernah dicanangkan tentang konsep pendidikan life skill . Sebenarnya konsep ini sangat bagus untuk memberikan bekal dasar bagi siswa agar setiap siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi masalahnya sendiri, baik masalah pribadi maupun masalah sosial. Tetapi dalam pelaksanaannya amat jauh panggang dari api, karena sdm tenaga pendidik belum siap dengan konsep ini. Oleh karena itu bagi mahasiswa tidak cukup membekali diri dengan ilmu-ilmu akademis, juga harus belajar untuk menghadapi kenyataan hidup. Kita harus mampu menjadikan setiap pengalaman baik langsung maupun tidak langsung sebagai pembelajaran diri. Kita bisa belajar di pasar dengan melihat segala peristiwa yang ada, kita bisa belajar di terminal mengan mengkaji setiap yang kita lihat dan sebagainya.

  11. Ya, setuju,..

    namun sayangnya mahasiswa/peserta didik saat ini enggan untuk bisa belajar di pasar dengan melihat segala peristiwa yang ada, dan belajar di terminal dengan mengkaji setiap yang di lihat dan sebagainya.

    pandangannya sangatlah simpel. Pragmatis!
    perlu langkah jitu di terapkan, tapi itu Apa ya…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: