Tantangan Pulang Kampung (1)


Setahun yang lalu, tepatnya September 2010 entah tanggal berapa, saya menuju ke Bandara Ngurah Rai, Bali, dengan wajah yang buram dan kusut.  Suasana berkabung  di tengah kepergian  kepala keluarga tercinta. Ya, Bapak. Begitu memilukan.

Mungkin berbeda dengan keberangkatan saya sekarang menuju bandara, lengkap dengan keluarga besar saudara Bapak. Tepatnya di Desa Lakawali, Kec. Malili, Kab. Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang  akan dilaksanakan upcara Pitra Yadnya, yaitu Ngaben.  Sebuah upacara kematian dengan membakar jenazah almarhum, bagi pemeluk umat Hindu untuk mengembalikan ke 5 unsur yaitu tanah, air, udara, sinar , dan ether.

Nuansa nampak  ‘sedikit’ ceria, soalnya harus menghadapi ‘rintangan’ menuju Ke bandara  .

Awalnya, Kamis ( 15/9) kami sudah bersiap-siap Chek-in tiket pesawat di bandara. Aturan formal menuju bandara, sejam sebelum pemberangkatan harus ada disana. Namun, amat sayang  sekali aturan tersebut tidak bisa kami indahkan dengan baik.

Peswat Lion Air dengan  jenis JT 746  akan berangkatan pukul 10.50 Wita. Dari Denpasar ke Makassar. Sedangkan kami sekeluarga masih saja menunggu jemputan hingga pukul 10.30. Alasan sopirnya: “macet merayap, mengular”. Entah apa maksudnya. Sudah berapa kali pesan saya kirim   untuk memastikan, bahkan untuk lebih puasnya saya hubungi berkali-kali namun jawabnnya singkat: “Macet Bos”!

Jawabannya begitu ringan dan enteng. Sedangkan kami yang akan berangkat sekitar puluhan menit lagi, sudah tidak karuan. Salah satu anggota keluarga dengan muka memerah dan mencak-mencak mengumpat sopir.

Posisi tempat duduk untuk menunggu sering berubah-ubah. Dari duduk, berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. Mata kami tetap melototi jarum jam. Tak pernah lepas, diikuti kata-kata yang keras dan kaku ditujukan untuk sang sopir .

Sesampainya ia (sopir), kami bergegas memasuki barang ke bagasi dan masuk ke mobil. Kami menyuruh sopir untuk memacu kendaraan dengan semaksimal mungkin. Sayang, rem dadakan sopir memngganjal keinginnan kami untuk sesegera mungkin ke Bandara. Macet. Sial! ucapku dalam hati!

Alur nafas sudah tak karuan, saya mencoba menghubungi call center pesawat yang kami tumpangi. Dengan nada yang sedikit “menggertak”, saya terus berusaha untuk memohon pindah jadwal. Kontak kami terputus, ternyata pulsa yang telah terisi puluhan ribu tak mampu ngobrol banyak ke  Pusat (Jakarta).

Dari apa yang saya sampaikan kepada Customer Servise Lion Air cukup sia-sia. Kemudian, mencoba untuk bisa pindah jadwal penerbangan  dengan menghubngi penjual tiket terdekat di dekat bandara.

Saya kira memperoleh potongan harga karena harus di cancel pemberangkatannya,  ternyata, harga tiket jatuhnya seperti saat membeli tiket pada mulanya, Rp 600.100,-. Saya pun kembali berunding dengan keluarga, setelah  itu  kami sepakat untuk membelinya. Saya pun menuju tempat pembelian tiket semula, dan di bantu dengan calo di sana. Ternyata harganya sudah meroket: Rp 1.000.000. Saya kaget, calo pun menyarakan agar di batalkan pemberangkatan pada saat itu.

Uang di saku sudah menipis, termasuk anggota keluarga yang lain. Saya berfikir sejenak, di tengah gaduhnya suasana bandara yang begitu padat. Mencoba melangkah dengan berat ke  ruang tunggu dimana anggota  kelurga lainnya  menanti  tiket.

Sesampainya saya disana, paman dari adik bapak menanyakan lagi. “Tiketnya sudah naik, satu jutaan” kata ku lesu. Mereka hanya terdiam, tak banyak biacara, begitu pesimis, antara jadi berangkat atau tidak—Bersambung

 

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 24/09/2011, in Jalan-Jalan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 10 Comments.

  1. pelayanan maskapai yang kurang memuaskan …

    ikut berduka-cita untuk bapak tercinta

    http://negeribocah.wordpress.com/2011/09/26/share-damai-indonesia/

  2. ya sperti itulah.
    makasi….

  3. hai…🙂
    aduh kebayang deh… aku pasti senewen berat kalau sudah mepet2 gitu…

    turut berduka cita atas berpulangnya bapakmu ya…

  4. Saya jg pernah mengalami hal serupa, tapi untungnya pesawatnya delay.
    Yang sabar aja mas. Btw, ga sabar nunggu kelanjutannya nih🙂

  5. @th3sa: makasi mbk atas perhatiannya😉
    @darin: sip, makasih, nanti saya posting lagi…:)

  6. what a blog…!
    salam kenal,

  7. blog ini sebagai media berbagi informasi gan…
    salam kenal juga …😉

  8. Blognya udah bagus dan artikel2 juga dibuat sendiri kan? Berarti udah punya modal mendulang $$$ di Internet..(tapi jangan pake wordpress.com)…salam sukses

  9. @Wayan tulus ; ia bli, buat sendiri lah…berarti harus pake web yg profesional dong bli, …moga2 sukses…

  10. Wah, makasih banget atas artikel dan sharing ilmunya, sangat bermanfaat bagi saya. Saya tunggu posting bagus berikutnya, sekali lagi terima kasih atas sharing ilmunya, salam sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: