Tantangan Pulang Kampung (2)


Melanjutkan tulisan saya mengenai Tantangan Pulang Kampung: part 1 sebelumnya, sekarang saya coba untuk meneruskannya: Tantangan Pulang Kampung: part 2.

Dengan langkah berat kami mencoba untuk merunding, mengenai kenaikan harga tiket yang begitu drastis. Meskipun dengan  kekecewaan jelas tersirat di benak saya dan anggota keluarga yan lain. Keputusan final kami peroleh, berangkat keesokan harinya.

Untungnya harga tiket yang di peroleh lebih ringan. Sayangnya  tidak bisa mengobati rasa kesal. Setelah menghubungi travel kemudian mem-booking-nya untuk pemberangkatan keesokan hari  dengan jadwal yang sama, yaitu pukul10.50 Wita, sejam sebelumnya terbang  harus chek-in di bandara.

Waktu telah menunjukkan  pukul 13.oo Wita, sedangkan limit pembayaran tiket pukul 14.oo Wita, hari itu juga.  Ini membuat saya tambah kesal lagi. “Rintangan pulang kampung kok seperti itu,” pikirku. Dari bandara ke travel jaraknya lumayan jauh, kalau macet menimpa mungkin melebihi 1 jaman dengan mengendarai sepeda motor.

Kalau  dipikir terus bakalan gak jalan dan gak dapet tiket, apalagi terus mengumpat. Saya cepat bergegas menggunakan sepeda motor yang dipakai oleh saudara untuk mengatar ke Bandara. Langsung tancap gas menuju TKP, kemacetan memang tak terelakkan, apalagi disekitaran bandara Ngurah Rai, Kuta dan Simpang Siur ditambah lagi polusi serta terik sinar matahari: Lengkap!

Namun tak apalah, demi pulang kampung dan keluarga. Entah berapa kecepatan rata-rata yang telah di  tempuh. Yang jelas, terus berusaha melewati kendaraan bermotor yang membayangi dari depan. Gerak melambat dan terkadang mengerem dadakan ketika lampu merah memberikan sinyal untuk tertib lalu lintas, sambil melirik pos polisi yang ada “penghuninya”. Kemudian, tancap gas lagi!

Napas sudah tak karuan. Akhirnya sampai juga di tempat pemesanan tiket. Beberapa karyawan travel menanyakan kenapa saya harus mencari tiket pesawat lagi,  saya menjawab dengan enteng : “ Kami lambat ke bandara”, mereka menanggapi  dengan huruf  “O” panjang.

Setelah itu keesokannya, pagi-pagi buta saya dan keluarga yang lain sudah  siap-siap. Berbeda pada waktu hari pertama, lambat, kami menuju bandara pukul 10.30. Dan sekarang, kami berangkat pukul 07.30. Mengantisifasi kecerobohan dan belajar dari kesalahan.

Kami menunggu hingga pada akhirnya pesawat yang kami tumpangi berangkat pada waktunya. Hmm…akhirnya datang juga. Dari Denpasar menuju Makassar membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, kami mengambang di udara dengan tenang dan rileks.

Pukul 12.10 waktu setempat kami sampai di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin-Makassar, kami harus menunggu barang bawaan  turun dari bagasi. Anggota kelurga yang lain sudah tidak sabar.  Menunggu cukup lama, ternyata kami salah tempat. Itu adalah tempat barang bagasi  untuk Pesawat Garuda Indonesia. Hm..payah!

Kami  pindah tempat dan baru diarahkan oleh security bandara saat ada keluhan dari penumpang pesawat untuk mengambil barang bawaan di tempat bagasi Lion Air.

Sore harinya, setelah singgah di sanak saudara di Makassarkemudian  mencari tiket bus untuk menuju kampung halaman. Disini kami harus menghadapi tantangan yang kedua lagi, setelah tiket pemberangkatan  pesawat awal hangus.

Jadwal yang saya ketahui Bus berangkat pukul 19.00. Setelah  registrasi dan mendaftrakan nama penumpang, yang tidak lain adalah  keluraga sendiri dan memberikan uang tiket, karyawan bus  mengatakan bahwa pemberangkatan dari Perwakilan pukul 18.00.

Saya mencoba melihat jam digital di Hp, ternyata sudah menunjukkan pukul 17.30. Nafas pun tak karuan lagi. Apakah mungkin saya kembali lagi ke rumah saudara untuk menjemput kelurga dengan taksi, kemudian ke perwakilan lagi dengan waktu tempuh  kurang lebih 1 jam?

Ini membuat pusing dan pening lagi! gawat,  deadline banget! Saya dianjurkan untuk menunggu di terminal saja oleh karyawan tiket. Dan jaraknya , lagi-lagi amat jauh. Huuuh. Tak ada banyak waktu lagi. Saya menghubungi taksi terdekat untuk menjemput keluarga yang singgah di rumah saudara.

Hal ini menjadi tantangan berat lagi, jangan sampai kami ditinggalkan bus, cukuplah tiket pesawat saja yang hangus. Pikirku. Setalah taksi sudah bersiap-siap untuk menuju perwakilan bus, kami langsung menuju ke perwakilan bus tadi, bukan langsung ke terminal. Sesampai disana, ternyata bus yang kami tumpungi telah pergi. Menurut salah satu kernet bus yang belum berangkat, katanya sudah menuju terminal.What!!!

Anggota keluarga yang lainnya pada kaget, dan lagi-lagi cemasnya minta ampun. Kami disarankan untuk menaiki bus lain yang juga satu travel dengan bus yang ingin kami tumpangi. Tak berselang lama, akhirnya kami diantar oleh bus dari perwakilan menuju terminal bus yang akan ditumpangi ke kampung halaman. Syukurlah!

Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. saya semakin berdebar-debar.  Kemudian mencoba menghubungi call center bus, ia mengatakan bahwa bus sudah ada di terminal, dan akan menunggu kami.

Namun tetap saja, saya tak yakin. Karena pukul 19.00 bus sudah berangkat  meninggakan terminal. Saya terus menghubungi call center-nya sampai beberapa kali, untuk sekadar meyakinkan bahwa kami penumpang bus tersebut dan ingin ditunggu.

Kecemasan semakin menjadi-jadi. Sesampai di terminal, kami turun dengan cepat dan langsung mengambil barang bawaan dari bagasi. Sempat bingung mencari bus tumpangan kami, karena warna dan ukurannya sama, untung saja no polisi yang tertera dalam tiket bus  bisa menjadi pembedanya.

Kami bergegas masuk kedalam bus, semua penumpang sudah ramai, hanya tinggal beberapa kursi kosong, yang tidak lain adalah jatah kursi kami sekelurga. Tak apalah yang penting tepat waktu, selang beberapa menit, karnet bus mendata penumpang dan akan siap berangkat.

Berakhir sudah tantangan pulang kampung yang banyak menguras tenaga dan materi tersebut. Dengan lega saya meneguk air kemasan dan mencicipi buah yang dijual oleh pedagang yang masuk kedalam bus. Hmm…🙂

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 02/10/2011, in Refleksi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: