Bus Sarbagita, Antara Solusi atau Masalah?


Bus trans-sarbagita sebagai salah satu pemecah kemacetan telah  beroperasi di beberapa koridor yang menghubungkan kota Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (sarbagita). 15 bus trans sarbagita yang merupakan jatah dari pusat, seyognyanya nanti bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, ditengah pengguna roda dua dan empat yang semakin membludak.

Dengan tarif yang cukup terjangkau, Rp 3.000 per sekali perjalanan untuk umum, dan Rp 2.500 bagi pelajar. Setiap halte hanya diberi waktu selama satu menit untuk turun naiknya penumpang.

Harapn besar dari Pemerintah Kota dengan kehadiran bus “ajaib” ini, tentunya  akan mengurangi dampak kemacetan pada titik klimaks para pengendara di pusaran kota, apalagi wilayah objek wisata.  Nah, bagaimana dengan respon masyarakat atas hadirnya transportasi publik ala busway ini? Apakah diapresiasi  positif oleh masyarakat?

Realitas Kendaraan.

Bisa kita amati saat ini, lonjakan transportasi di kota Denpasar sudah tak terhitung berapa jumlah validnya, karena terus bertambah dan bertambah. Bahkan dalam satu Kepala Keluarga (KK) memiliki lebih dari satu roda dua ditambah lagi kendaraan roda empat.

Tak salah jika dikatakan setiap anggota keluarga memiliki kendaraan pribadinya masing-masing. Memang kendaraan roda dua atau akrab disebut motor, bagi sebagian masyarakat Bali khususnya,  sama dengan “Kaki Bermesin “, Kaki yang mampu melangkah  hingga ribuan kilometer.

Tanpa kaki bermesin ini, tentu tidak akan mampu melangkah dengan sempurna. Itulah yang sering diadagiumkan oleh masyarakat Bali mengenai tranpotasi yang terbilang fleksibel dari segi waktu dan jarak tempuh tersebut.

Tak sampai disana saja, perusahaan kendaraan roda empat dan dua pun tak tinggal diam. Tak  henti-hentinya memproduksi kendaraan dengan beragam daya tariknya. Dengan tawaran harga yang terjangkau hingga kualitasnya, membuat masyarakat kita saat ini semakin terlena, meskipun hampir  mengoleksi sekian kendaraan bermotor dalam keluarga.

Belum lagi berjubel iklan kendaraan yang di pasang dekat traffic light, lengkap dengan embel-embelnya, secara psikologis pengemudi yang melintas pun terpikat untuk memilikinya.

Penyakit masyarakat yang konsumtif pun bangkit dengan pancingan iklan, sehingga  sulit membedakan antara “kebutuhan dan keinginan”. Budaya konsumtif telah menjadi hasrat negara berkembang seperti negeri ini, apalagi prdoduk sekelas kendaraan bermotor.

Kemacetan

Realitas dilapangan sudah membuktikan, berkiblat dari Jarakta,sebagai basis kota metropolis yang tak pernah mati dengan moda transpotrasi bervariatif. Beragam alternatif pun dicoba untuk menghadapi kemacetan yang  tanpa batas, bahkan jam-jam istirahat pun, tak terlepas dari kata: macet!

Trans Jakarta tak berkutik banyak, meskipun dinobatkan sebagai salah satu tranportasi publik “terkemuka”, yang akan bisa memecah kemacetan, toh nyatanya  arus lalu lintas semakin parah dan membengkak padat.

Ini membuktikan bahwa, semakin lengkapnya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, tak lepas yang namanya permasalahan, bahkan melebihi dari apa yang menjadi target sebelumnya. Semakin meningkatnya sarana prasarana, berbanding lurus dengan peningkatan kemacetan yang terjadi.

Ini sudah terbukti! Begitupun Bali, sabagai salah satu tujuan wisata dunia, kemacetan sebagai salah satu masalah kronis yang  tidak mudah ditemukan jalan keluarnya.Apalagi hanya mengandalkan bus transbagita.

Konsistensi Sarbagita  

Dengan aktifnya moda transportasi tersebut, masyarakat telah memiliki persepsi sebelum munculnya angkutan umum berbasis bus ini. Kemacetan yang hanya akan ditimbulkan di tengah kota pun menjadi alasan kuat, mengapa warga belakangan ini enggan memilih bus sebagai salah satu alternatif dalam bertransportasi.

Selain  waktu tempuh yang lama, juga fasilatas pendukung dan jadwal pemberangkatan Bus Sarbagita yang saat ini  belum tersistem dengan baik, bahkan  acapkali “ngaret”.

Berbeda  dengan jalur bus seperti Jakarta yang memilki jalur khusus busway, sedangkan dipusat-pusat kota Bali, sulit untuk mewujudkannya. Meskipun bisa, perlu waktu yang tidak singkat, dengan pembebasan lahan yang berakibat pada berkurangnya  lahan produktif. “Kesadaran”. Hanya ini yang saat ini dibutuhkan untuk menyikapi keadaan Bali yang semakin “berat”.

Kesadaran masyarakat untuk membuka mata, hati dan telinga dalam menggunakan transportasi pribadi, setidaknya menjadi pertimbangan matang. Jika hanya ingin menguatkan ego masing-masing dalam berkendara, maka sulit menghadapi dilema saat ini.  Bus sarbgita, antara solusi dan masalah, itu ada dalam sudut pandang kita masing-masing.

sumber foto: detik.com

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 05/10/2011, in Bali Kini and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Jadi agak sedikit macet ya dengan penambahan Bus ini?
    setahu saya jalan di Bali agak sempit juga kakn?
    Salam persahabatan dari Lombok Bli.

  2. ya, realitasnya seperi itu mas.Jaln di Bali emang sempit, karna luas Bali kan sempit mas…
    salam juga…

  3. Wah, tapi buat turis kampungan macam saya ini mungkin lebih seru naik Sarbagita daripada pake travel agent klo pengen jalan-jalan di Bali. Betul?🙂

  4. Ndak masalah, bisa di coba kalau nanti kebali….
    terjangkau bnget, tapi perlu kesabaran ekstra untuk samapai di tempat tujuan mas…

    salam🙂

  5. aku belum pernah ke bali.. belum kebayang jadinya macet bali itu hehe

  6. Ow gtu, ntar kalau ada waktu ke Bali jalan2, biar bali gk di penuh orang bule aja,,,:)

  7. Ketika bulan Agustus tahun ini saya datang ke Bali, saya surprise dengan beroperasinya Trans Sarbagita. Saat itu masih tahap uji coba.

    Menarik juga menyoroti pernyataan di atas bahwa Trans Sarbagita: “….sebagai salah satu pemecah kemacetan”. Saya lihat bus ini hanya melayani kawasan pingiran Kota Denpasar dan Kuta, sementara pusat kota yang macet belum atau tidak dilayani.

    Saya masih penasaran dengan dibangunnya Bus Trans Sarbagita:

    1. Kenapa jaringan koridor belum meliputi kawasan metropolis Sarbagita, sesuai namanya? Melalui http://trans.sarbagita.com/rute/ pembangunan koridor malah belum sampai dengan Tabanan dan Kota Gianyar. Atau belum dibangun saja?

    2. Apabila ingin mengatasi kemacetan, nampaknya percuma karena tidak memberikan prioritas bagi bus melalui lajur khusus atau exclusive lane. Karena berbagi lajur, bus akan terjebak kemacetan bersama dengan kendaraan lainnya.

    3. Saat ini, angkutan feeder untuk Bus Trans Sarbagita belum “ada”. Saya masih menebak – nebak, apakah angkutan publik, seperti metromini atau angkutan desa yang ada saat ini akan difungsikan sebagai feeder ?

    4. Saingan Trans Sarbagita adalah sepeda motor….termasuk untuk pergerakan regional, ternyata pesepeda motor cukup mendominasi. Harus dapat dibuktikan bahwa pemanfaatan Trans Sarbagitaini harus lebih murah dari operasional sepeda motor, termasuk dalam keleluasaan mobilitas ke berbagai tempat tujuan.

  8. Pertanyaan dan pernyataanya membuat saya “geli” Pak

    Yah…itulah realitasnya, mengenai pertanyaan koridor belum meliputi kawasan metropolis Sarbagita, sesuai namanya, ini pun menjadi perhatian di benak masyarakat Bali, apalagi warga yg ingin mencoba akses tranportasi publik yang satu tersebut yang hampimirip dg busway di Jakarta…

    Mengenai pernyataan Bapak mengenai Saingan Trans Sarbagita adalah sepeda motor…adalah permalahn juga bagi pemerintah untuk ‘menyadarkan’ warga ,khususnya di kota2 besar seperti Denpasar dan Badung. Namun sosialisasi mengenai penggunaan angkutan umum, seperti transbagita harus terus di galakkan, sehingga bukan sekadar proyek belaka. Semoga!

    Salam kenal, sudah mau berbagi…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: