Hari Gini Masih Nge-Pos ?


Kala itu suasana begitu panas, waktu menunjukkan pukul 12.00 Wita, sambil menggela nafas panjang dan mengeluhkan keadaan suhu udara yang tak menentu. Itu yang kulakukan sepanjang jalan menuju PT Pos Indonesia.  Belum lagi berbagai jenis populasi  lengkap dengan kendaraani yang mengapit sisi kanan-kiriku.

Dijalan raya semua pengendara  menunjukkan aksinya masing-masing. Belum lagi para pelajar (baca saja: anak SMA)  yag telah pulang dari sekolah ( maaf kalau kasar) seperti anjing yang baru keluar dari kandang. Begitu buas, yah, buas dalam mengendari sepeda motornya.

Suara knalpot motor yang memag sengaja di modif sehinga menghasilkan suara melengking keras, begitu menantang. Mayoritas seperti itu, bukan hanya anak  laki-lakinya saja, perempuan pun tak mau kalah.

Sambil tertawa lepas tanpa beban dijalanan, mereka ngobrol ini dan itu hingga tukaran no handphone. Amat lumrah ditemukan. Bahkan, para pelajar yang acapkali bergerombolan dengan mengendarai sepeda motor satu persatu itu,  yang menutrut saya hanya menambah kemacetan kota Denpasar, semakin menjadi-jadi.

Padahal tranpotrasi publik  yaitu bus Sarbagita sudah disiapkan pemerintah dengan ongkos yang tak terlalu mahal, Rp 2.500 untuk pelajar dan mahasiswa, Rp 3.000 untuk umum.

Yah, tapi sudahlah, meskipun saya harus berteriak sekencang-kencangnya dalam blog ini tidak akan banyak yang mendengar, kecuali mereka baca isi blog ini. Dan diwajibkan oleh pemerintah, ha…

Kembali ke jalan (bukan laptop). Semakin dekat saja tempat tujuan yang ingin saya capai. Yup, PT Pos Indonesia, dengan warna  yang begitu kinclong nampak dari kejauhan, Orange.

Wibawa Tukang Parkir

Di benakku, seseorang sudah amat langka menggunakan jasa layanan yang satu ini. Karena seperti saat ini, kirim pesan tak perlu harus kirim surat dan bersusah payah harus ke Pos.

Harus menunggu sampai ditempat tujuan hingga berhari-hari. Sejak kehadiran Internet dan punggawanya, gaya hidup masyarakat pedesaan, terlebih perkotaan berubah drastis. Instan.

Cukup hanya dengan menekan keyword yang ada di hp, laptop,tablet, atau  spesis lainnya  untuk menyampaikan tujuan dan sedikit keahlian dalam mengoperasionalkan itu semua.  Sekian  detik pun pesan yang akan disampikan sudah sampai kepada seseorang atau tujuan , dimanapun tempatnya.

Asalkan ada listrik dan perangkat pendukung . Mudah bukan! Begitupun dalam pengirimian paket barang, cara kilat pun banyak ditawarkan oleh penyedia jasa yang semakin berkembang kayak jamur.

Ternyata, prasangku ku salah. Banyak orang yang masih  membanjiri PT Pos Indonesia yang bertempat di Renon, Denpasar. Parkiran Mobil dan roda dua penuh, sesak, banyak yang berseliweran, sambil membawa amplop dan map berwarna cokelat.

Bahkan tak ketinggalan pula barang bawaan berbentuk kubus, dulapisi kertas berwarna cerah lengkap bertuliskan nama, tujuan, no hp, dan embel-embel  lain yang meyakinkan. Mungkin kirimannya takut nyasar kali, he…

Setelah masuk kedalam kantor orage tersebut,  juru parkir dengan penuh wibawanya mengarahkan para pengunjung yang datang, plus sedikit senyum.  Apakah  mungkin itu salah satu pelayanan  prima  pihak peruasaan,  Pos tersebut? Entahlah, yang jelas saya bayar parkir setelah itu🙂

Vitamin C

Memasuki gedung yang warna sama dengan buah yang banyak mengandung vit. C tersebut, (ahai, lebai banget) pengunjungnya begitu ramai. Membludak. Bahkan kursi untuk antri  tak sanggup  memfasilitasi para pengunjungnya.

Ya, mau tidak mau berdiri dan memulai ritual : mengumpat dalam hati, diselingi berdoa untuk tetap bersabar.

Saya  mencoba untuk santai sejenak, dan menikmati antrian, sambil lirik kana-kiri. Sayangnya, seusia ku amat jarang ditemukan di sana. Sebagian besar seangkatan dengan bapak-ibu, bahkan kakek-nenek ku.

Kalau pun ada, itu cuma satu dua orang saja. “Ternyata penikamat fasilitas ini hanya digandrungi oleh kaula tua”,  pikirku sejenak.

Kenapa harus mereka yang kesini, bukan anak-anak mereka atau menantu  mereka yang masih muda  dan kuat. Entahlah, mungkin orang-orang tersebut sibuk sekolah, kerja, kuliah, atau pergi kemana.

Sambil mendengarkan para pengunjung yang usianya rata-rata diatas kepala empat, aku hanya meratap saja. Mereka seperti reonian, mengenang kisah ordenya, ketika masih duduk di bangku sekolah . Yah, kurang lebih seperti itu.

Setelah lama berkeliling  dan lelah mencari teman sebaya untuk  duduk, saya akhirnya hengkang dari ruangan, kemudian  menuju ke Mas yang sedang menunggu di luar. Siapa  lagi kalau bukan penjual Bakso .

Sambil meghilangkan kejenuhan, karena nomor atri yang saya dapatkan adalah 150 sedangkan yang baru disebut adalah no 104. Wah bisa pingsan saya di dalam. Tipe orang gak sabaran🙂

Lebih baik saya menikmati Bakso dulu dibawah pohon rindang, hmm..Setelah memesan , penjualnya menanyakan mengapa saya kesana (PT Pos Indonesia).

“Dari mana mas,” tanya penjual bakso yang berawakan subur tersebut.

“Mau kirim paketan mas,” kata ku.

“Ow, dapat no berapa,” tanyanya kembali

“150 (sambil menyodorkan kertas putih yang berisikan angkat tersebut).

“Ini mas, lumayan lagi dua orang ( ia menyodorkan kartu antrian dengan no 148 yang ia ambil dari sakunya )

Wah, aku hanya terpesona degan tawaran mas penjual Bakso tersebut. Selain penjual Bakso, ia juga merupakan dewa penyelamat bagi orang yang memiliki no antrian yang harus menjanjikan kesabaran. Termasuk aku. Untunglah. Aku terima tawarnnya, lagi pula gratis. He…

Tapi menurut saya, itu merupakan salah satu trik, nilai plus untuk  meningkatkan nilai jual baksonya, (alah….) Karena, selain menjual bakso, ternyata bisa juga menawarkan paket jasa penukaran no antrian, hmmm.

Boleh juga ditiru oleh penjual lain, untuk meningkatkan penjualan dan citra pedagang kaki lima. Asalkan tidak menyalahi birokrasi aturan yang ada, atau mungkin pedagang disekitar perusahaan apapun bisa menggunakan trik ini .

Bisa memanfaatkan alternatif tersebut, namun tetap gratis…tis…tis..sehingga ada simbiosis Mutualisme, antara pengguna jasa dan penjual makanan yang ada disekitarannya. Disatu sisi meringankan jadwal antri, pengguna jasa, sekaligus   semakin semangat untuk  membeli makanan dari penjual tersebut, begitupun   Penjual/penjaja makanan pun diuntungkan.

Semoga ini bisa menjadi salah satu tips, untuk penyediajasayang sejenis,  yang semakin ‘gersang’ peminat, khususnya anak muda yang kurang doyan terhadap budaya antri. Good Luck!

 

sumber foto: www. republik.co.id

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 08/12/2011, in Ekomania and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. sama pedagang baksonya gak ditanya Wani piro kan?
    salam kenal, walo sebenarnya uda pernah kenalan sering ketemu🙂

  2. sekalian aj cong ikut jualan bakso, , mngkin mie ayam aj deh byar ga sma, kyaknyalaris jga jualan bakso dsana,,🙂

  3. wah harusnya minta tukar yang nomor agak lebih awal.. hehe

  4. seharus ikut nimbrug aja sama obrolan2 kaum manula,. “Gimana Kesan2nya jadi manula???” , “Rencananya kapan nie, mau akhirin status manulanya??” sambil nyengir.😀

  5. @happy: ditanya, pas mau bayar baksonya py….🙂
    @Sukoco: boleh juga tuh,lumayan lah untuk tambahan kakaka…
    @tuaffi : udah agk ad Fi,,cuma itu doang
    @eka : Ah, lagi bad mood ka,,low ada seumuran ya, sikat lah, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: