Esensi dan Refleksi di Hari Ibu


Dua benih manusia yang diciptakan oleh Tuhan, laki-laki dan perempuan. Benih  perbedaan yang komplementatif yaitu perbedaan yang saling melengkapi.  Sosok laki-laki yang maskulin, diimbangi dengan  wanita yang feminim, penuh kasih dan sayang. Dua unsur benih yang memiliki ikatan batin kuat saat menjalin sebuah hubungan (rumah tangga).

Wanita dari segala sudut pandang tetap selalu menarik untuk dibicarakan. Tanpa disadari oleh kaum pria, wanita memiliki kekuatan dan kemampuan tersembunyi yang begitu amat besar. Sayang, kaum pria mempersepsikan sebuah kelemahan.

Sehingga tidak mengherankan ketika wanita sedang bersedih hati, ia akan mengekpresikan dengan tetesan air mata. Padahal sebenarnya, menangis bukanlah bagian dari karakter mereka. Bagi wanita, menangis adalah upaya mereka untuk bertahan, intropeksi diri, mengumpulkan tenaga, kekuatan, mengatur emosi, pernyataan sikap, dan sebuah curahan hati.

Wanita mampu bertahan dan tegar dalam keluarga sebagai seorang pembimbing, pengajar, pendidik, dan  mengatur anak-anaknya. Memiliki kekuatan dan keperkasaan layaknya laki-laki untuk bertahan dan pantang menyerah sehingga tidak mudah putus asa.

Sosok feminim ini juga memiliki kesabaran untuk merawat keluarga tanpa keluh dan kesah, meskipun ia dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Kekuatan  untuk membimbing, kebijaksanaan dan kemampuan untuk menyadarkan anggota keluarga termasuk suami dan anak dalam kebimbangan.

Dan pada akhirnya air mata yang acapkali disimbolisasikan sebagai kelemahan , padahal merupakan sebuah  air mata kehidupan, Air mata yang memberikan benih kehidupan pada keluarga,lingkungan, masyarakat luas dan Negari ini.

Ditengah “keterbatasan” perempuan, ternyata ia  mampu untuk ikut berpartisipasi dalam dominasi dunia pria di Indonesia. Kita sudah sering melihat prestasinya dalam  bidang  politik, sosial, teknologi, maupun olah raga.

Walaupun masih banyak orang yang merendahkan kaum wanita namun mereka tetap dapat menunjukkan eksistensinya dalam berbagai bidang. Jika demikian apakah kita pantas untuk merendahkan martabat kaum wanita ?

Pendekar Devisa

Tanggal 22 Desember  bagi sebagian besar para kaum wanita khususnya di Indoensia merupakan momentum besar dalam menghargai pergerakan, jasa dan ketangguhan seorang Wanita (baca: hari ibu ) pada masanya dan sampai saat ini .

Tanggal dan bulan tersebut diangap sakral untuk menghargai semua jasa seorang wanita dengan  memiliki peran dan tanggung jawab sebagai  seorang pertiwi, pelindung keluarga selain suami (laki-laki)  meskipun setiap masa menorehkan perjuangan yang berbeda.

Jika flashback sejarah pergerakan wanita di Indonesia, Pada tahun 1928, bertepatan dengan tahun diadakannya Kongres Pemuda, organisasi-organisasi wanita saat itu tak  mau kalah. Pada tanggal 22-25 Desember 1928 kongres wanita pertama diadakan, yang kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).

Organisasi wanita sendiri sudah bermula sejak 1912 yang terilhami oleh pejuang wanita nasional seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.

Mereka saat itu berkumpul untuk mempersatukan organisasi-organisasi wanita ke dalam satu wadah demi mencapai kesatuan gerak perjuangan untuk kemajuan wanita bersama dengan pria dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Luar biasa!

Bagaimana dengan wanita dan penghargaan negara saat ini? Kekerasan Rumah Tangga yang terhadap wanita  di  layar kaca akibat  faktor ekonomi lumrah kita saksikan . Belum lagi   kisah kasih  Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang ada diluar negeri.

Baik  tersangkut kasus pelecehan seksual, kekeran fisik oleh sang majikan hingga hukuman pancung menanti di depan mata. Kini hanya menanti  rasa iba dari pemerintah,  apakah ada apresiasi kepada para pendekar devisa negeri ini atau tidak. Wanita termarjinalkan dengan beragam tudingan yang melemahkan. Tragis!

Kesetaraan Gender

Isu  santer kesetaraan gender diabad 21 mengingatkan  kita bersama sebagai ciptaan sang tunggal, bahwa masing-masing benih kedua manusia memiliki kondrat yang sama. Hak asasi untuk hidup dan memperoleh segalanya secara imbang  dan setara, tak ada yang berat sebelah.

Sayang  realitasnya amat berbanding terbalik. Saat ini wanita lebih disibukan oleh perdebatan yang nir-makna. Isu persamaan hak menjadi perdebatan yang selalu mengisi ruang dan waktu kaum perempuan.

Padahal ruang untuk itu sebenarnya sudah sangat terbuka lebar. Permasalahannya bukan pada tertutupnya ruang atau akses bagi kaum perempuan, akan tetapi lebih kepada siapa yang mampu merebut kesempatan atau peluang itu.

Dalam Manawa Dharmasastra I.32 dinyatakan bahwa Pria  dan wanita sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Dalam ajaran Hindu tidak dikenal bahwa wanita itu berasal dari tulang rusuk laki-laki. Ini artinya dalam sloka Manawa Dharmasastra tersebut bahwa Pria dan wanita menurut pandangan Hindu memiliki kesetaraan.

Dari konsepsi terciptanya manusia ini sudah tergambar bahwa pria dan wanita secara azasi harkat dan martabat serta gendernya adalah sejajar.

Semoga momen hari ibu pada bulan ini dimaknai secara esensi dan  spirit yang melatar belakanginya. Bukan sekadar seremonial tahunan yang  hanya bersifat simbolik semata. Terlebih jika hanya memaknai peran domestiknya (kasur, dapur, sumur dan mengurus anak).

Selamat merayakan hari ibu!

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 20/12/2011, in Refleksi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: