Ogoh-ogoh, Musrik Namun di Puja


Perayaan Nyepi  sebagai perenungan dengan menyepikan segala aktivitas manusia. Juga sebagai peringatan Tahun Baru Saka 1934 yang jatuh pada Jumat (23/3).  Sekaligus bertepatan pada Sholat Jumat, nampak disambut dengan beragam upacara dan kreativitas.

Terlebih  ogoh-ogoh. Seni rupa ini hampir tak lepas dari Nyepi, yang diarak sehari sebelumnya  dikenal dengan  Pangerupukan.  Bertujuan  untuk mensomya (menetralisir hal-hal negatif dilingkungan sekitar) .

Selain itu juga digelar   parade Ogoh-ogoh di Kota Denpasar. Seperti yang telah berlangsung, Kamis (22/3) di depan Patung  Catur Muka, Kawasan Lapangan Puputan, Badung. Kunjungan masyarakat baik lokal maupWiasatawan Domesti (Wisdom) begitu memadati arus lalu lintas, hingga sempat terjadi kemacetan panjang.

Menurut pantauan saya, ketika parade ogoh-ogoh dimulai sejak sore sekitar pukul 16.00 Wita,ternyatasudah  di banjiri pengunjung, lengkap dengan pengamanan pihak kepolisiandan jajaran. Tak lupa pula, Pecalang ikut mengamankan. 

Mata kamera,mulai dari Handphone, Kamera Pocket, hingga XLR dengan berbagai merk mengeluarkan pantulan cahaya tertuju pada ogoh-ogoh yang di bidik. Sambil berteriak dengan amat riuh. Terlebih  ketika ogoh-ogoh di putar diiringi dengan seka gong (kelompok orang yang membawakan alat musik tradisional Bali), menambah sorakan dari penonton.Luar biasa. Saya takjub terlebih mereka yang baru pertama kali datang ke Bali menyaksikannya.

Suasana nampak hidup dengan ringkihan suara ogoh-ogoh yang di atur dari masing-masing pembuatannya. 20  ogoh-ogoh sebagai peserta parade yang ambil bagian dari even bergengsi tahunan Pemkot tersebut,   menyihir mata penonton. Bentuk dan karater yang beragam coba ditampilkan.  Belum lagi ogoh-ogoh yang tak ikut parade hadir meramaikan dengan jumlah hingga mencapai ratusan lebih.

Mulai dari Tokoh  Pewayangan, Ramayana, Mahabarta, sosok manusia dalam kehidupan sosial yang serba abnormal, hinggga kasus korupsi oleh  Nazarudin dan Angelina, yang belakangan gencar di publikasi media juga ada.  Bahkan sempat membuat saya “mual” menyaksikan  beritanya akhir-akhir ini . Habisnya, penyelesain kasusnya  berbelit-belit dan memprihatinkan.  

Lanjut lagi. ketika ogoh-ogoh berjejer dan mengeluarkan aksi terbaik mereka, para penonton yang menyaksikan begitu terpukau termasuk Wisdo amat antusias dan memberikan syarat agar, aksi dari ogoh-ogoh lagi dilanjutkan oleh para anak muda yang mengusungnya. Sembari  tersenyum, sembari memainkan ponsel untuk sekadar mengambil gampar dan mengupdate di sosial media. Sekiranya itu ekpresi kegembiraan, saat live mneyaksikan ogoh-ogoh, budaya Bali (Hindu).

Mareka nampak  tak ada rasa kesal atau mengumpat ogoh-ogoh ( berbentuk patung) yang dibawa oleh kalangan anak muda (Hindu). Bahkan, mereka tak segan-segan untuk berfose di dekat ogoh-ogoh. Entah karena mayoritas Hindu, sehingga para pengunjung yang datang kelihatan “sopan”. Mudah-mudahan ini hanya tafsir dangkal saya saja.

Berbeda dengan para penceramah di Tv yang acapkali  menebar kebencian terhadap patung atau simbol-simbol yang di pandang musrik. Mungkin seperti itu atau bagaimana, yang jelas mereka tampak bebas berada di Bali. Mareka begitu menikmati.

Mencuat sebuah pertanyaan dalam benak saya sendiri. Belakangan ini, patung, seni rupa yang disembah oleh Hindu sebagai media bhakti kepada Tuhan,  acapkali dipandang  musrik oleh penganut agama tertentu.  Apalagi  yang belakangan mengatasnamakan diri sebagai agama yang paling benar di negeri ini.

Bahkan patung-patung yang ada di Jawa sana, yang memuat tentang pewayangan Hindu . Dirobohkan bahkan tak segan-segan dihancurkan dengan alasan diatas.Sulit saya untuk menilai. Ketika jauh berbicara dalam tataran kepercayan, namun seni dan budaya pun di labrak, untuk mengatasnamakan kebenaran mutlak. Gak nyambung!

Sambil menghela nafas panjang dan dalam. Ogoh-ogoh yang merupakan karya seni dan budaya Hindu di Bali, dan sudah berkembang di wilayah lainnya di Indonesia masih menjadi polemik bagi mereka yang fanatik dengan patung-patung bisu” tersebut. Disatu sisi dipandang Musrik  namun di sisi lain di “Puja”, bagi mereka yang acapkali berlibur ke Bali untuk menikmati pertunjukan ogoh-ogoh!

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934 bagi umat Hindu yang merayakan.

About awitara

saat ini masih sebagai mahasisa aktif di salah satu perguruan ringgi negeri di Bali. kegiatan sehari-hari ngeliput kegiatan mahasiswa, koz aktif di pers mahasiswa dan mengasuh terbitan majalah "brahmastra". selain itu, saya juga menyukai banyak hal tentang TI . suka menulis., membaca, nge-blog, diskusi , jalan-jalan dan berbagai hal yang menyenangkan. isi dalam blog saya ini rata-rata kumpulan artikel tulisan yang pernah di terbitkan di koran lokal maupun nasional. ya, itung-itung berbagi informasi dan sambil belajar nulis.

Posted on 23/03/2012, in Hinduism and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. karya seni dan budaya apa pun memang layak diapresiasi dan dikembangkan, mas. pingin lihat gambar ogoh-ogohnya, ternyata tidak disertakan dalam postingan, ya, hehe ….

  2. ya, mas sawali, kemarin tak coba memasukkan foto, eh, gak tampil-tampil, nanti saya coba lagi, makasi masukannya…:)

  3. Lama tak berkunjung, selamat Tahun Baru Saka 1934, Mas Sawali saya punya sedikit koleksi foto ogoh-ogoh di http://manacikapura.wordpress.com/tattwa/yadnya/ogoh-ogoh-kota-mataram/

  4. manusia biasa bukan malaikat

    Biarkan orang lain sirik,peduli amat,yang penting kita gak ganggu orang di rumah kita,kalau ada yang gak suka jangan datang ke bali,gitu aja kok repot,agamamu agamamu,agamaku agamaku,jangan coba ngatur agama orang lain bitch

  5. manusia biasa bukan malaikat

    kalau semua ngaku jadi agama paling bener,tolong di pikir2 dulu,opo iyo paling bener

  6. Hello, I enjoy reading all of your article post. I
    like to write a little comment to support you.

  7. Pada saat kita merasa paling baik dan meremehkan orang lain apa lg keyakinannya, pd saat itu anda dlm posisi yg memprihatin kan…maaf klau aq. Menyampaikan ini kawan…..mari kita renungkan diri kita ,apa yg sudah kita perbuat yg bisa bermanfaat buat orang banyak…tdk melihat apa agamanya….

  8. Seni itu luas bung lebih luas dari kaca mata agamamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: